Informasi

Masuk
Adab

Adab Muslim dalam Merespon Chat Pesan di Era Digital

Ketika Whatsapp Menjadi Cermin Akhlak Seorang Muslim

Mustami Rasyid Ridha · 26 Mei 2026 · Paradigma Profetik Edukasi
Adab Muslim dalam Merespon Chat Pesan di Era Digital

Sebuah pesan dikirim. Tanda centang dua muncul. Lalu biru. Namun tidak ada balasan. Satu jam berlalu. Satu hari. Pengirim bertanya-tanya: apakah pesannya sampai? Apakah perlu dikirim ulang? Apakah ada yang salah? Fenomena ini bukan lagi pengecualian dalam kehidupan digital kita ia telah menjadi kebiasaan yang dianggap biasa: membaca tanpa membalas, membalas tanpa salam, bahkan sengaja menyembunyikan tanda baca agar terlihat belum membaca.

Sebelum melangkah lebih jauh, penting untuk menegaskan bahwa artikel ini tidak mempersoalkan kecepatan respons atau kewajiban merespons setiap pesan tanpa terkecuali. Islam sendiri mengenal fiqhul awlawiyyat  prioritas berdasarkan urgensi dan konteks. Yang menjadi keprihatinan adalah ketika komunikasi yang jelas-jelas memerlukan konfirmasi koordinasi kerja, amanah organisasi, atau sapaan saudara seiman sengaja dibiarkan tanpa respons apapun. Di sinilah adab dan syariat berbicara.

WhatsApp hanyalah media. Tetapi akhlak tidak berganti seiring bergantinya medium komunikasi. Yang berubah adalah caranya  dari lisan ke tulisan, dari tatap muka ke layar, namun prinsip dasar adab Islam tetap berlaku dan bahkan menuntut lebih, karena pesan tertulis meninggalkan jejak yang bisa dilihat semua pihak.

PERINTAH MERESPON DALAM AL-QUR'AN

Islam tidak pernah membiarkan urusan komunikasi tanpa panduan. Jauh sebelum era digital, Al-Qur'an telah menetapkan prinsip yang jelas tentang kewajiban merespons komunikasi yang ditujukan kepada kita. Allah SWT berfirman dalam Q.S. An-Nisa [4]: 86:

وَإِذَا حُيِّيتُم بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا

Artinya: "Dan apabila kamu diberi salam dengan satu salam, maka balaslah dengan yang lebih baik darinya atau balaslah dengan (salam) yang serupa."

Imam Ibnu Katsir R.A dalam Tafsir Al-Qur'an Al-Adzim menjelaskan makna ayat ini dengan tegas:

مَنْ سَلَّمَ عَلَيْكَ فَرُدَّ عَلَيْهِ أَفْضَلَ مِمَّا سَلَّمَ أَوْ رُدَّ عَلَيْهِ مِثْلَهُ، فَالزِّيَادَةُ مَنْدُوبَةٌ وَالْمُسَاوَاةُ وَاجِبَةٌ

Artinya: "Apabila seseorang muslim mengucapkan salam kepadamu, maka balaslah dengan lafazh yang lebih baik dari ucapan salamnya, atau balaslah dengan ucapan salam yang serupa. Maka menambah (dengan ucapan salam yang lebih baik) adalah dianjurkan, sedangkan membalas dengan lafazh yang serupa adalah wajib."

Prof. Dr. M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah Jilid 5 mengaitkan ayat ini dengan fenomena komunikasi modern. Beliau menggarisbawahi bahwa kewajiban merespons bukan sekadar formalitas ritual, melainkan cerminan penghargaan terhadap keberadaan orang lain. Ketika seseorang mengirim pesan dan tidak mendapat respons sama sekali, ia mengalami apa yang dalam kajian psikologi modern disebut sebagai pengabaian sosial — sesuatu yang Islam justru sudah melarangnya jauh sebelum istilah itu dirumuskan.

MENGABAIKAN PESAN: ANTARA SILATURAHMI DAN ANCAMAN SYARIAT

Persoalan mengabaikan komunikasi bukan perkara sepele dalam Islam. Al-Qur'an secara eksplisit memperingatkan mereka yang memutus apa yang diperintahkan untuk disambungkan. Allah SWT berfirman dalam Q.S. Ar-Ra'd [13]: 25:

الَّذِينَ يَنقُضُونَ عَهْدَ اللَّهِ مِن بَعْدِ مِيثَاقِهِ وَيَقْطَعُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَن يُوصَلَ وَيُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ ۙ أُولَٰئِكَ لَهُمُ اللَّعْنَةُ وَلَهُمْ سُوءُ الدَّار

Artinya: "Orang-orang yang melanggar perjanjian Allah setelah diteguhkan, memutuskan apa yang diperintahkan Allah untuk disambungkan, dan berbuat kerusakan di bumi; mereka itulah orang-orang yang mendapat laknat dan bagi mereka tempat kediaman yang buruk."

Rasulullah SAW menegaskan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim:

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعُ رَحِمٍ

Artinya: "Tidak akan masuk surga orang yang memutus silaturahmi." (H.R. Bukhari no. 5984 dan Muslim no. 2556)

Tuan Guru KH. Muhammad Zaini Abdul Ghani (Guru Sekumpul) — ulama besar Kalimantan Selatan yang dikenal keilmuan dan kearifannya — pernah menyampaikan nasihat yang sangat relevan di era teknologi ini. Beliau berkata bahwa di zaman sekarang, teknologi yang canggih justru mempermudah silaturahmi melalui handphone, sehingga lebih mudah untuk menjaga dan menjalin hubungan antar sesama. Ini berarti kemudahan yang Allah berikan melalui teknologi membawa tanggung jawab yang lebih besar: tidak ada alasan untuk mengabaikan komunikasi dengan sesama muslim ketika alatnya sudah begitu mudah dijangkau.

ADAB BERKOMUNIKASI: WARISAN ULAMA KLASIK

Para ulama klasik telah merumuskan standar adab komunikasi yang sangat terperinci, jauh sebelum era digital. Imam An-Nawawi R.A dalam Al-Majmu' Syarhul Muhadzab Jilid 4 menegaskan hukum menjawab salam:

رَدُّ السَّلَامِ وَاجِبٌ بِإِجْمَاعِ الْمُسْلِمِينَ، فَإِنْ كَانَ الْمُسَلَّمُ عَلَيْهِ وَاحِدًا تَعَيَّنَ عَلَيْهِ الرَّدُّ، وَإِنْ كَانُوا جَمَاعَةً كَانَ فَرْضَ كِفَايَةٍ

Artinya: "Menjawab salam hukumnya wajib berdasarkan ijma' kaum muslimin. Jika yang diberi salam adalah satu orang, maka wajib baginya untuk menjawab (fardhu 'ain). Jika yang diberi salam adalah sekelompok orang, maka hukumnya fardhu kifayah bagi mereka."

Imam Al-Ghazali R.A dalam Ihya' Ulum ad-Din merumuskan adab berteman yang mencakup dimensi komunikasi secara menyeluruh:

آدَابُ الْإِخْوَانِ: الِاسْتِبْشَارُ بِهِمْ عِنْدَ اللِّقَاءِ، وَالِابْتِدَاءُ بِالسَّلَامِ، وَالْمُؤَانَسَةُ، وَالْإِنْصَاتُ عِنْدَ الْكَلَامِ، وَتَرْكُ الْجَوَابِ عِنْدَ انْقِضَاءِ الْخِطَابِ

Artinya: "Adab berteman adalah: menunjukkan rasa gembira ketika bertemu, mendahului beruluk salam, bersikap ramah, mendengarkan dengan penuh perhatian ketika berbicara, dan memberikan jawaban ketika pembicaraan telah selesai disampaikan."

Rasulullah SAW juga bersabda tentang pentingnya menjaga lisan dan cara berkomunikasi:

مَنْ يَضْمَنَّ لِي مَا بَيْنَ لِحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الْجَنَّةَ

Artinya: "Barang siapa yang menjamin bagiku untuk menjaga apa yang ada di antara dua rahangnya (lisan) dan apa yang ada di antara dua kakinya (kemaluan), aku jaminkan baginya surga." (H.R. Bukhari no. 6474)

Dalam konteks chat digital, "menjaga lisan" berarti menjaga cara kita merespons: tidak membalas dengan kalimat kasar, tidak menjawab dengan nada meremehkan, tidak pula membiarkan pesan tanpa respons hingga menimbulkan kecemasan pada pengirimnya.

KETIKA SAINS MEMBENARKAN SYARIAT

Penelitian modern mulai mengungkap apa yang syariat Islam telah tegaskan sejak berabad-abad lalu. Gauttam, Gupta, dan Vijeta (2025) dalam penelitian yang diterbitkan di South Eastern European Journal of Public Health (SEEJPH) menemukan bahwa fenomena "being left on read" yaitu pesan dibaca namun tidak dibalas aka menimbulkan reaksi emosional negatif yang signifikan: perasaan terisolasi, diabaikan, overthinking, self-doubt, kemarahan, hingga kesedihan. Penelitian ini menegaskan bahwa fitur read receipts dalam aplikasi pesan instan menciptakan tekanan sosial dan ekspektasi respons yang nyata.

Sebelumnya, Lynden dan Rasmussen (2017) dalam penelitian fundamental tentang read receipt anxiety menemukan bahwa fitur tanda baca berkaitan erat dengan strategi penghindaran komunikasi, peningkatan kecemasan, dan sikap sangat negatif terhadap situasi diabaikan. Sementara itu, penelitian di Al-Haram Journal (2024) yang berfokus pada konteks Indonesia menemukan bahwa korban ghosting digital atau komunikasi yang diputus tanpa penjelasan  seringkali berakhir dengan mempertanyakan kepantasan diri sendiri.

Apa yang sains sebut sebagai social exclusion, Islam sudah lama melarangnya sebagai bentuk ihanah yaitu meremehkan atau merendahkan saudara seiman. Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar, dengan corak adabi ijtima'i-nya (sosial kemasyarakatan), menekankan bahwa penerapan nilai-nilai etika dalam berinteraksi  termasuk berkata dengan lembut, memverifikasi informasi, dan menjaga martabat, bukan sekadar pilihan moral, melainkan kewajiban sosial seorang Muslim. Syariat tidak pernah menunggu sains untuk membuktikan kebenarannya,  sains hanya sedang menyusul.

MEMBANGUN ADAB KOMUNIKASI DIGITAL YANG ISLAMI

Sebagai panduan praktis, penulis merumuskan empat tahapan komunikasi digital yang Islami dalam prinsip BACA, sebuah akronim yang sekaligus menjadi pengingat atas akar persoalan yang dibahas dalam artikel ini. 

B — Baca Pesan Secara Utuh

Tahapan pertama adalah membaca pesan secara menyeluruh, bukan sekadar melihat notifikasi sekilas. Membaca hanya dari pratinjau notifikasi tanpa membuka pesan sepenuhnya berpotensi menimbulkan salah paham terhadap isi dan maksud pengirim. Dalam adab Islam, istima' mendengarkan dengan penuh kehadiran bukan hanya berlaku dalam komunikasi lisan. Ia mencerminkan penghargaan terhadap seseorang yang sedang menyampaikan sesuatu kepada kita.

A — Afirmasi Penerimaan Pesan

Tahapan kedua adalah mengonfirmasi bahwa pesan telah diterima dan dibaca, meski hanya dengan kalimat singkat: "noted", "siap", "baik insya Allah", atau "oke, saya proses." Afirmasi sederhana ini memutus ketidakpastian pengirim apakah pesannya sampai, apakah perlu diulang, apakah perlu ditelepon. Inilah wujud langsung dari kewajiban merespons yang ditegaskan dalam Q.S. An-Nisa: 86, serta sejalan dengan penegasan Imam An-Nawawi bahwa menjawab adalah kewajiban yang tidak gugur begitu saja.

C — Cerna dan Respons Isinya

Tahapan ketiga adalah memberikan respons substantif atas isi pesan: kapan bisa dikerjakan, apa kendalanya, atau bagaimana perkembangannya. Respons bukan sekadar tanda bahwa pesan diterima, tetapi bukti bahwa isi pesan benar-benar dipahami dan ditindaklanjuti. Ini adalah wujud nyata dari itqan  amanah dalam menunaikan tanggung jawab komunikasi yang menjadi salah satu ciri Muslim yang dapat dipercaya.

A — Ajukan Pertanyaan bila Perlu

Tahapan keempat adalah bertanya bila ada yang belum jelas, atau menambahkan informasi penting agar koordinasi berjalan sempurna. Diam ketika ada hal yang tidak dipahami justru berpotensi menimbulkan kesalahan di kemudian hari. Inilah esensi dari tabayun yang Allah perintahkan dalam Q.S. Al-Hujurat [49]: 6 , yaitu memastikan kejelasan sebelum bertindak.

Prinsip BACA bukan sekadar panduan teknis komunikasi digital. Ia adalah cerminan dari adab Islam yang telah dirumuskan para ulama sejak berabad-abad lalu  kini hadir dalam konteks yang baru, tetapi dengan nilai yang sama.

PENUTUP

WhatsApp adalah cermin. Ia tidak menciptakan akhlak — ia hanya menampilkannya. Ketika seseorang membaca pesan penting lalu dengan sengaja tidak membalas, centang biru menjadi saksi bisu dari sikap yang dipilihnya. Ketika seseorang membalas dengan kasar dan tanpa salam, layar kecil itu merekam bagaimana ia memandang saudaranya.

Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari R.A, ulama besar Kalimantan yang karyanya masih menjadi rujukan hingga hari ini, menegaskan dalam Sabilal Muhtadin bahwa tujuan ibadah bukan sekadar menggugurkan kewajiban, tetapi menghadirkan kesadaran dan adab kepada Allah. Prinsip ini tidak terbatas pada shalat dan puasa — ia mencakup seluruh dimensi kehidupan seorang Muslim, termasuk cara ia berkomunikasi dengan sesama.

Ilmu pengetahuan modern telah membuktikan bahwa mengabaikan pesan melukai jiwa penerimanya. Syariat Islam telah mewajibkan respons jauh sebelum penelitian itu ada. Keduanya bertemu pada satu kesimpulan yang sama: bahwa seorang Muslim tidak dikenal hanya dari kekhusyukan shalatnya — tetapi juga dari cara ia membalas pesan saudaranya.

Kutipan / Dalil

QURAN Q.S. An-Nisa [4]: 86

وَإِذَا حُيِّيتُم بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا

"Dan apabila kamu diberi salam dengan satu salam, maka balaslah dengan yang lebih baik darinya atau balaslah dengan (salam) yang serupa."

QURAN Q.S. Ar-Ra'd [13]: 25

الَّذِينَ يَنقُضُونَ عَهْدَ اللَّهِ مِن بَعْدِ مِيثَاقِهِ وَيَقْطَعُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَن يُوصَلَ وَيُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ ۙ أُولَٰئِكَ لَهُمُ اللَّعْنَةُ وَلَهُمْ سُوءُ الدَّار

"Orang-orang yang melanggar perjanjian Allah setelah diteguhkan, memutuskan apa yang diperintahkan Allah untuk disambungkan, dan berbuat kerusakan di bumi; mereka itulah orang-orang yang mendapat laknat dan bagi mereka tempat kediaman yang buruk."

HADITH Al-Bukhari, M. bin I. (2001). Shahih al-Bukhari: Kitab al-Adab, Bab Fadhl Shilah al-Rahim (No. Hadis 5984 & 6474). Dar Thauq al-Najah.
HADITH Muslim, I. al-H. (2006). Shahih Muslim: Kitab al-Birr wa al-Shilah wa al-Adab, Bab Silaturahmi wa Haramiyyah Qath'iha (No. Hadis 2556). Dar Ihya al-Turath al-Arabi.
KITAB Al-Banjari, M. A. (1979). Sabilal Muhtadin lit-Tafaqquh fi Amrid-Din. Percetakan Bina Usaha.
KITAB Al-Ghazali, I. (2011). Ihya' Ulum ad-Din (Vol. 2). Dar al-Minhaj.
KITAB An-Nawawi, Y. (t.t.). Al-Majmu' Syarhul Muhadzab (Jilid 4, hlm. 460). Dar al-Fikr.
KITAB Ibnu Katsir, I. (1999). Tafsir Al-Qur'an Al-Adzim (Vol. 2). Dar Tayyibah.
SAINS Hamka. (1983). Tafsir Al-Azhar (Juz V). Pustaka Panjimas.
SAINS Shihab, M. Q. (2002). Tafsir Al-Misbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian Al-Qur'an (Jilid 5). Lentera Hati.

Daftar Pustaka

  • Gauttam, K., Gupta, V., & Vijeta. (2025). Understanding silence and blocking in instant messaging. South Eastern European Journal of Public Health (SEEJPH), XXVI(S1). https://www.seejph.com/index.php/seejph/article/download/3613/2399/5453
  • Lynden, J., & Rasmussen, T. (2017). Exploring the impact of 'read receipts' in mobile instant messaging. Tidsskrift for Medier, Erkendelse Og Formidling, 5(1). https://tidsskrift.dk/mef-journal/article/view/28781
  • Al-Haram Journal. (2024). Fenomena ghosting dalam hubungan virtual di kalangan mahasiswa. Al-Haram Journal, 5 Juli 2024. https://al-haramjournal.id/index.php/JIM/article/download/4264/3319/8595
  • Frontiers in Organizational Psychology. (2024). Digital workplace technology intensity and employee wellbeing. Frontiers in Organizational Psychology. https://doi.org/10.3389/forgp.2024.1392997

Dokumen Terkait

Download Artikel (PDF)

* Anda harus login untuk mengunduh file ini.