Rutinan Malam Selasa
Nurul Muhibbin Barabai
Oleh: Muhammad Khaidir
20 Okt 2026, 23:37
*Catatan Pengajian Malam Rabu, Selasa 20 Oktober 2026*
Ayahanda KH Muhammad Bakhiet
Berkata sebagian ulama, yaitu pensyarah Kitab Al-Hikam:
Amal ketaatan yang bersifat zahiriyah itu terlihat atau terdengar, seperti sembahyang, zikir, dan tilawatil Qur’an. Semua itu tidak akan mempercepat perjalanan seorang hamba menuju Allah, kecuali disertai dengan ketaatan batiniah yang sempurna.
Amal ibadah yang kita lakukan memiliki perjalanan yang berbeda-beda menuju Allah. Ada yang berjalan dengan cepat, lambat, sangat lambat, bahkan ada yang seolah-olah tidak bergerak sama sekali.
10 Sebab Ibadah Cepat Sampai ke Hadrat Allah
1. Iman
Orang yang mengerjakan sembahyang secara lahiriah harus memiliki iman di dalam hatinya. Jika tidak ada iman dalam hatinya, maka ibadahnya tidak akan sampai kepada Allah.
Ibadah orang-orang munafik, misalnya, hanya tampak dari luar. Secara lahiriah mereka beragama Islam, tetapi batin mereka tidak beriman kepada Allah. Jika mereka bersedekah, sedekah tersebut tidak akan memberikan manfaat sebagaimana mestinya karena hati mereka tidak menyertai amal lahiriah yang mereka lakukan.
2. Ikhlas
Cepat atau lambatnya perjalanan ibadah seseorang menuju Allah bergantung pada keikhlasannya. Apakah ia beribadah karena takut kepada Allah, mengharapkan surga-Nya, atau karena tujuan lainnya?
Rasulullah ﷺ menyampaikan dalam hadis qudsi bahwa Allah berfirman:
قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ، مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ مَعِيَ غَيْرِي، تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ
Artinya:
“Allah Ta'ala berfirman: Aku adalah Zat yang paling tidak membutuhkan sekutu. Barang siapa melakukan suatu amalan yang di dalamnya ia mempersekutukan Aku dengan selain-Ku, maka Aku tinggalkan dia bersama kesyirikannya.”
(HR. Muslim, no. 2985)
Jika seseorang beribadah karena Allah dan mengharapkan agar dirinya dijauhkan dari api neraka, maka hal tersebut tidak mengapa karena ia tetap mengarahkan harapannya kepada Allah.
Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa keikhlasan berarti melakukan amal ibadah semata-mata karena Allah.
3. Perlahan-lahan dalam Melakukan Ketaatan
Dalam melaksanakan ibadah, kita hendaknya tidak tergesa-gesa. Misalnya, ketika mengerjakan sembahyang, harus ada tuma’ninah dan ketenangan dalam setiap gerakannya. Jangan sampai kita terburu-buru dalam melaksanakan sembahyang.
Rasulullah ﷺ bersabda:
التَّأَنِّي مِنَ اللهِ، وَالْعَجَلَةُ مِنَ الشَّيْطَانِ
Artinya:
“Perlahan-lahan (tidak tergesa-gesa) itu berasal dari Allah, sedangkan tergesa-gesa itu berasal dari setan.”
4. Hadirnya Hati
Ketika kita mengerjakan sembahyang, hendaknya hati turut hadir dan fokus kepada Allah. Jangan sampai ketika tubuh sedang melakukan gerakan i’tidal, hati justru memikirkan hal-hal yang lain. Hal ini menunjukkan bahwa hati belum sepenuhnya hadir dalam ibadah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ الْعَبْدَ لَيُصَلِّي الصَّلَاةَ، مَا يُكْتَبُ لَهُ مِنْهَا إِلَّا عُشْرُهَا، تُسْعُهَا، ثُمُنُهَا، سُبُعُهَا، سُدُسُهَا، خُمُسُهَا، رُبُعُهَا، ثُلُثُهَا، نِصْفُهَا
Artinya:
“Sesungguhnya seseorang mengerjakan sembahyang, tetapi tidaklah dicatat baginya dari sembahyangnya itu kecuali sepersepuluhnya, sepersembilannya, seperdelapannya, sepertujuhnya, seperenamnya, seperlimanya, seperempatnya, sepertiganya, atau setengahnya.”
Salah satu cara untuk menghadirkan hati dalam sembahyang adalah dengan mengetahui dan memahami makna bacaan yang kita ucapkan. Dengan memahami maknanya, hati akan lebih mudah terhubung dengan apa yang sedang kita baca dan lakukan dalam ibadah.
5. Mengagungkan Allah
Ketika bersujud, kita sedang mengagungkan Allah. Namun, pengagungan atau ta’zhim bukan hanya dilakukan melalui gerakan lahiriah, melainkan juga harus tertanam di dalam hati.
Hati harus menyadari kebesaran dan keagungan Allah sehingga ibadah yang kita lakukan tidak sekadar menjadi gerakan tubuh, tetapi juga disertai dengan pengagungan kepada-Nya.
6. Merasakan Manisnya Ibadah
Merasakan kenikmatan dan manis dalam melaksanakan ibadah merupakan salah satu sebab yang mempercepat perjalanan amal seorang hamba menuju hadrat Allah.
Apabila Allah menghendaki seorang hamba sampai kepada-Nya, maka Allah akan menganugerahkan kepadanya manisnya ibadah.
Jika seorang hamba dicintai Allah, ia akan dimudahkan untuk beramal dan merasakan manis ketika melaksanakan ibadah. Sebaliknya, jika seseorang merasa berat dalam ibadah maka tanda seseorang itu tidak dicintai Allah.
Ketika kita sudah merasakan manisnya ibadah, hal itu menjadi salah satu tanda adanya kecintaan kepada Allah.
Apakah Allah sudah menjadi kekasih hati kita? Jika ketika membaca Al-Qur’an kita masih belum merasakan kenikmatan, maka kita perlu memeriksa kembali sejauh mana kecintaan kita kepada Allah. Namun, apabila kita sudah merasakan kenikmatan ketika membaca Al-Qur’an dan melaksanakan ibadah, semoga hal itu menjadi tanda semakin kuatnya kecintaan kita kepada-Nya.
Salah satu tolak ukur kecintaan kita kepada Allah adalah merasakan manis dalam melaksanakan ibadah, yang disebut dengan al-ḥalāwah (الحلاوة).
Apabila kita mencintai Allah, maka Allah pun akan mencintai kita.
Untuk menjadikan ibadah terasa nikmat bukanlah perkara yang mudah dan tidak bisa diperoleh secara instan. Diperlukan ilmu pengetahuan, kesungguhan, dan proses yang berkelanjutan agar kita dapat merasakan kenikmatan dalam beribadah.
7. Takut kepada Allah
Ketika membaca Al-Qur’an, hendaknya kita menghadirkan rasa takut kepada Allah. Kita perlu merenungkan ayat-ayat yang dibaca sehingga tumbuh rasa takut akan kemurkaan dan azab-Nya, serta dorongan untuk menjauhi segala larangan-Nya.
Rasa takut kepada Allah merupakan salah satu ibadah batin yang menyertai amal lahiriah kita.
8. Berharap kepada Allah
Dalam keadaan tertentu, ibadah dapat menumbuhkan harapan yang kuat di dalam hati kita.
Misalnya, ketika membaca ayat ihdinash-shirāthal-mustaqīm (اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ), kita memohon kepada Allah agar diberikan petunjuk menuju jalan yang lurus.
Ketika mengucapkan bacaan tersebut, hendaknya kita benar-benar berharap agar Allah memberikan petunjuk dan membimbing kita untuk tetap berada di jalan yang diridai-Nya.
9. Mengingat Anugerah Allah
Kita harus selalu mengingat anugerah yang telah diberikan oleh Allah. Kemampuan membaca Al-Qur’an, kesempatan hadir dalam majelis ilmu, serta kemampuan melaksanakan ibadah semuanya merupakan karunia dari Allah.
Dengan mengingat anugerah tersebut, kita akan menyadari bahwa semua kemampuan yang kita miliki berasal dari-Nya. Hal ini juga menjadi salah satu cara untuk menjaga hati agar tidak merasa ujub atau membanggakan diri atas amal ibadah yang telah dilakukan.
10. Bersyukur kepada Allah
Ketika mengucapkan Alhamdulillāhi Rabbil ‘ālamīn (الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ), yang berarti “Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam,” hendaknya di dalam hati kita terdapat rasa syukur kepada Allah.
Kita menyadari bahwa Allah telah memberikan begitu banyak nikmat dalam kehidupan kita. Oleh karena itu, ucapan hamdalah tidak cukup hanya di lisan, tetapi harus disertai dengan kesadaran dan rasa syukur di dalam hati atas segala karunia yang telah diberikan-Nya.
Kesimpulan
Setiap ibadah lahiriah memerlukan sepuluh ibadah batiniah agar amal yang kita lakukan dapat berjalan dengan baik dan semakin mendekatkan kita kepada hadrat Allah.
Oleh karena itu, ketika melaksanakan ibadah, jangan hanya memperhatikan gerakan dan bacaan secara lahiriah. Kita juga harus memperhatikan keadaan hati, mulai dari iman, keikhlasan, ketenangan, kehadiran hati, pengagungan kepada Allah, kemanisan dalam ibadah, rasa takut, harapan, kesadaran terhadap anugerah Allah, hingga rasa syukur kepada-Nya.
Dengan menyertakan semua itu dalam ibadah, semoga amal kita tidak hanya menjadi amalan lahiriah, tetapi juga disertai dengan kesempurnaan batin yang membawa kita semakin dekat kepada Allah.
*Mohon maaf atas segala bentuk ketidaksempurnaan dalam merangkai kata dan menyampaikan isi dari catatan ini. Mudah-mudahan ada manfaatnya.*
@ibnathalib_
Ayahanda KH Muhammad Bakhiet
Berkata sebagian ulama, yaitu pensyarah Kitab Al-Hikam:
Amal ketaatan yang bersifat zahiriyah itu terlihat atau terdengar, seperti sembahyang, zikir, dan tilawatil Qur’an. Semua itu tidak akan mempercepat perjalanan seorang hamba menuju Allah, kecuali disertai dengan ketaatan batiniah yang sempurna.
Amal ibadah yang kita lakukan memiliki perjalanan yang berbeda-beda menuju Allah. Ada yang berjalan dengan cepat, lambat, sangat lambat, bahkan ada yang seolah-olah tidak bergerak sama sekali.
10 Sebab Ibadah Cepat Sampai ke Hadrat Allah
1. Iman
Orang yang mengerjakan sembahyang secara lahiriah harus memiliki iman di dalam hatinya. Jika tidak ada iman dalam hatinya, maka ibadahnya tidak akan sampai kepada Allah.
Ibadah orang-orang munafik, misalnya, hanya tampak dari luar. Secara lahiriah mereka beragama Islam, tetapi batin mereka tidak beriman kepada Allah. Jika mereka bersedekah, sedekah tersebut tidak akan memberikan manfaat sebagaimana mestinya karena hati mereka tidak menyertai amal lahiriah yang mereka lakukan.
2. Ikhlas
Cepat atau lambatnya perjalanan ibadah seseorang menuju Allah bergantung pada keikhlasannya. Apakah ia beribadah karena takut kepada Allah, mengharapkan surga-Nya, atau karena tujuan lainnya?
Rasulullah ﷺ menyampaikan dalam hadis qudsi bahwa Allah berfirman:
قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ، مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ مَعِيَ غَيْرِي، تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ
Artinya:
“Allah Ta'ala berfirman: Aku adalah Zat yang paling tidak membutuhkan sekutu. Barang siapa melakukan suatu amalan yang di dalamnya ia mempersekutukan Aku dengan selain-Ku, maka Aku tinggalkan dia bersama kesyirikannya.”
(HR. Muslim, no. 2985)
Jika seseorang beribadah karena Allah dan mengharapkan agar dirinya dijauhkan dari api neraka, maka hal tersebut tidak mengapa karena ia tetap mengarahkan harapannya kepada Allah.
Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa keikhlasan berarti melakukan amal ibadah semata-mata karena Allah.
3. Perlahan-lahan dalam Melakukan Ketaatan
Dalam melaksanakan ibadah, kita hendaknya tidak tergesa-gesa. Misalnya, ketika mengerjakan sembahyang, harus ada tuma’ninah dan ketenangan dalam setiap gerakannya. Jangan sampai kita terburu-buru dalam melaksanakan sembahyang.
Rasulullah ﷺ bersabda:
التَّأَنِّي مِنَ اللهِ، وَالْعَجَلَةُ مِنَ الشَّيْطَانِ
Artinya:
“Perlahan-lahan (tidak tergesa-gesa) itu berasal dari Allah, sedangkan tergesa-gesa itu berasal dari setan.”
4. Hadirnya Hati
Ketika kita mengerjakan sembahyang, hendaknya hati turut hadir dan fokus kepada Allah. Jangan sampai ketika tubuh sedang melakukan gerakan i’tidal, hati justru memikirkan hal-hal yang lain. Hal ini menunjukkan bahwa hati belum sepenuhnya hadir dalam ibadah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ الْعَبْدَ لَيُصَلِّي الصَّلَاةَ، مَا يُكْتَبُ لَهُ مِنْهَا إِلَّا عُشْرُهَا، تُسْعُهَا، ثُمُنُهَا، سُبُعُهَا، سُدُسُهَا، خُمُسُهَا، رُبُعُهَا، ثُلُثُهَا، نِصْفُهَا
Artinya:
“Sesungguhnya seseorang mengerjakan sembahyang, tetapi tidaklah dicatat baginya dari sembahyangnya itu kecuali sepersepuluhnya, sepersembilannya, seperdelapannya, sepertujuhnya, seperenamnya, seperlimanya, seperempatnya, sepertiganya, atau setengahnya.”
Salah satu cara untuk menghadirkan hati dalam sembahyang adalah dengan mengetahui dan memahami makna bacaan yang kita ucapkan. Dengan memahami maknanya, hati akan lebih mudah terhubung dengan apa yang sedang kita baca dan lakukan dalam ibadah.
5. Mengagungkan Allah
Ketika bersujud, kita sedang mengagungkan Allah. Namun, pengagungan atau ta’zhim bukan hanya dilakukan melalui gerakan lahiriah, melainkan juga harus tertanam di dalam hati.
Hati harus menyadari kebesaran dan keagungan Allah sehingga ibadah yang kita lakukan tidak sekadar menjadi gerakan tubuh, tetapi juga disertai dengan pengagungan kepada-Nya.
6. Merasakan Manisnya Ibadah
Merasakan kenikmatan dan manis dalam melaksanakan ibadah merupakan salah satu sebab yang mempercepat perjalanan amal seorang hamba menuju hadrat Allah.
Apabila Allah menghendaki seorang hamba sampai kepada-Nya, maka Allah akan menganugerahkan kepadanya manisnya ibadah.
Jika seorang hamba dicintai Allah, ia akan dimudahkan untuk beramal dan merasakan manis ketika melaksanakan ibadah. Sebaliknya, jika seseorang merasa berat dalam ibadah maka tanda seseorang itu tidak dicintai Allah.
Ketika kita sudah merasakan manisnya ibadah, hal itu menjadi salah satu tanda adanya kecintaan kepada Allah.
Apakah Allah sudah menjadi kekasih hati kita? Jika ketika membaca Al-Qur’an kita masih belum merasakan kenikmatan, maka kita perlu memeriksa kembali sejauh mana kecintaan kita kepada Allah. Namun, apabila kita sudah merasakan kenikmatan ketika membaca Al-Qur’an dan melaksanakan ibadah, semoga hal itu menjadi tanda semakin kuatnya kecintaan kita kepada-Nya.
Salah satu tolak ukur kecintaan kita kepada Allah adalah merasakan manis dalam melaksanakan ibadah, yang disebut dengan al-ḥalāwah (الحلاوة).
Apabila kita mencintai Allah, maka Allah pun akan mencintai kita.
Untuk menjadikan ibadah terasa nikmat bukanlah perkara yang mudah dan tidak bisa diperoleh secara instan. Diperlukan ilmu pengetahuan, kesungguhan, dan proses yang berkelanjutan agar kita dapat merasakan kenikmatan dalam beribadah.
7. Takut kepada Allah
Ketika membaca Al-Qur’an, hendaknya kita menghadirkan rasa takut kepada Allah. Kita perlu merenungkan ayat-ayat yang dibaca sehingga tumbuh rasa takut akan kemurkaan dan azab-Nya, serta dorongan untuk menjauhi segala larangan-Nya.
Rasa takut kepada Allah merupakan salah satu ibadah batin yang menyertai amal lahiriah kita.
8. Berharap kepada Allah
Dalam keadaan tertentu, ibadah dapat menumbuhkan harapan yang kuat di dalam hati kita.
Misalnya, ketika membaca ayat ihdinash-shirāthal-mustaqīm (اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ), kita memohon kepada Allah agar diberikan petunjuk menuju jalan yang lurus.
Ketika mengucapkan bacaan tersebut, hendaknya kita benar-benar berharap agar Allah memberikan petunjuk dan membimbing kita untuk tetap berada di jalan yang diridai-Nya.
9. Mengingat Anugerah Allah
Kita harus selalu mengingat anugerah yang telah diberikan oleh Allah. Kemampuan membaca Al-Qur’an, kesempatan hadir dalam majelis ilmu, serta kemampuan melaksanakan ibadah semuanya merupakan karunia dari Allah.
Dengan mengingat anugerah tersebut, kita akan menyadari bahwa semua kemampuan yang kita miliki berasal dari-Nya. Hal ini juga menjadi salah satu cara untuk menjaga hati agar tidak merasa ujub atau membanggakan diri atas amal ibadah yang telah dilakukan.
10. Bersyukur kepada Allah
Ketika mengucapkan Alhamdulillāhi Rabbil ‘ālamīn (الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ), yang berarti “Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam,” hendaknya di dalam hati kita terdapat rasa syukur kepada Allah.
Kita menyadari bahwa Allah telah memberikan begitu banyak nikmat dalam kehidupan kita. Oleh karena itu, ucapan hamdalah tidak cukup hanya di lisan, tetapi harus disertai dengan kesadaran dan rasa syukur di dalam hati atas segala karunia yang telah diberikan-Nya.
Kesimpulan
Setiap ibadah lahiriah memerlukan sepuluh ibadah batiniah agar amal yang kita lakukan dapat berjalan dengan baik dan semakin mendekatkan kita kepada hadrat Allah.
Oleh karena itu, ketika melaksanakan ibadah, jangan hanya memperhatikan gerakan dan bacaan secara lahiriah. Kita juga harus memperhatikan keadaan hati, mulai dari iman, keikhlasan, ketenangan, kehadiran hati, pengagungan kepada Allah, kemanisan dalam ibadah, rasa takut, harapan, kesadaran terhadap anugerah Allah, hingga rasa syukur kepada-Nya.
Dengan menyertakan semua itu dalam ibadah, semoga amal kita tidak hanya menjadi amalan lahiriah, tetapi juga disertai dengan kesempurnaan batin yang membawa kita semakin dekat kepada Allah.
*Mohon maaf atas segala bentuk ketidaksempurnaan dalam merangkai kata dan menyampaikan isi dari catatan ini. Mudah-mudahan ada manfaatnya.*
@ibnathalib_