Pengajian Malam Ahad
Bani Al Ahdal
Oleh: Muhammad Khaidir
23 Mei 2026, 21:33
CATATAN PENGAJIAN : KH. AHMAD RIFANI
Malam Ahad, 23 Mei 2026
Masjid Bani Ahdal, Gunung Ronggeng, Martapura
Kajian Kitab Sabilal Muhtadin
• Meninggalkan berjamaah sekalipun ada udzur maka kada boleh ini bagi yang memadahkan berjamaah itu wajib & meninggalkan berjamaah sekalipun ada udzur maka kadapapa ini bagi yang memadahkan berjamaah itu sunnah.
• Imam Muzani adalah murid Imam Syafi’i yang dulu kada pehafalan tapi cangkal orangnya, tapi suatu ketika ia di marahi tetangganya langsung hafal.
• Syarat mengaji sebuting aja: Tugul-tugul (Rajin)
• Ulama ikhtilaf bagi sembahyang sendiri karena ada udzur apakah ada hasil ujar Imam Nawawi kada mendapatkan hasil, tapi menurut imam lain dapat aja asal di niatkan mulai awal. Kata Imam Subki: Biar inya kada berniat udzur tapi dasar gawian katuju ke masjid tetap mendapat pahala berjamaah.
• Biasakan misalnya membaca alquran, sembahyang berjamaah, nanti sewaktu-waktu ada waktu itu tidak bisa kita menggawinya maka tetap kita mendapatkan pahala. Nang kaya orang pensiun tapi ia mendapatkan pensiunan.
• Do’a Nabi SAW: Ya Allah jadikan keluasan rezeki ulun gasan waktu tua.
• Kata Syekh Ibnu Hajar di dalam kitab tuhfah: Hasil orang yang menghimpun antara 2 pekerjaan itu yang pertama orang tu melazimi bekas berjamaah (dasar gawian mulai bahari) dan mengqasad niat maka sekalian tempat udzur itu menggugurkan segala yang memakruhkan.
• Ke langgar kada kawa tapi di rumah kawa tatap ae kada mendapatkan pahala jama’ah.
• Pasal sifat imam sembahyang dan barang yang ta’luq dengan dia.
• Kita sembahyang tapi imamnya membawa najis maka tidak sah berjamaah. Tapi misalnya barangnya tak nampak misalnya di kantong maka sembahyang imam tidak sah tapi makmum sah karena makmum tidak melihat barangnya.
• Tidak sah mengikuti imam bila ada bersalahan dalam ijtihad dalam i’tiqadnya misalnya kiblat, air dalam bejana, atau kain bersih atau kada.
• Tidak sah pula imam bermazhab syafi’i mengikuti hanafi yang diketahui meninggalkan 1 rukun seperti bismillah melainkan bahwa ia itu Sultan maka harus syafi’i mengikutinya karena takut akan fitnah dan tidak ada qadha atasnya.
Wallahu’alam Bis Showwab..
Malam Ahad, 23 Mei 2026
Masjid Bani Ahdal, Gunung Ronggeng, Martapura
Kajian Kitab Sabilal Muhtadin
• Meninggalkan berjamaah sekalipun ada udzur maka kada boleh ini bagi yang memadahkan berjamaah itu wajib & meninggalkan berjamaah sekalipun ada udzur maka kadapapa ini bagi yang memadahkan berjamaah itu sunnah.
• Imam Muzani adalah murid Imam Syafi’i yang dulu kada pehafalan tapi cangkal orangnya, tapi suatu ketika ia di marahi tetangganya langsung hafal.
• Syarat mengaji sebuting aja: Tugul-tugul (Rajin)
• Ulama ikhtilaf bagi sembahyang sendiri karena ada udzur apakah ada hasil ujar Imam Nawawi kada mendapatkan hasil, tapi menurut imam lain dapat aja asal di niatkan mulai awal. Kata Imam Subki: Biar inya kada berniat udzur tapi dasar gawian katuju ke masjid tetap mendapat pahala berjamaah.
• Biasakan misalnya membaca alquran, sembahyang berjamaah, nanti sewaktu-waktu ada waktu itu tidak bisa kita menggawinya maka tetap kita mendapatkan pahala. Nang kaya orang pensiun tapi ia mendapatkan pensiunan.
• Do’a Nabi SAW: Ya Allah jadikan keluasan rezeki ulun gasan waktu tua.
• Kata Syekh Ibnu Hajar di dalam kitab tuhfah: Hasil orang yang menghimpun antara 2 pekerjaan itu yang pertama orang tu melazimi bekas berjamaah (dasar gawian mulai bahari) dan mengqasad niat maka sekalian tempat udzur itu menggugurkan segala yang memakruhkan.
• Ke langgar kada kawa tapi di rumah kawa tatap ae kada mendapatkan pahala jama’ah.
• Pasal sifat imam sembahyang dan barang yang ta’luq dengan dia.
• Kita sembahyang tapi imamnya membawa najis maka tidak sah berjamaah. Tapi misalnya barangnya tak nampak misalnya di kantong maka sembahyang imam tidak sah tapi makmum sah karena makmum tidak melihat barangnya.
• Tidak sah mengikuti imam bila ada bersalahan dalam ijtihad dalam i’tiqadnya misalnya kiblat, air dalam bejana, atau kain bersih atau kada.
• Tidak sah pula imam bermazhab syafi’i mengikuti hanafi yang diketahui meninggalkan 1 rukun seperti bismillah melainkan bahwa ia itu Sultan maka harus syafi’i mengikutinya karena takut akan fitnah dan tidak ada qadha atasnya.
Wallahu’alam Bis Showwab..