Detail Guru
Datu Abulung (Syekh Abdul Hamid)
Tentang Guru
Syekh Abdul Hamid atau lebih dikenal dengan Datu Abulung adalah salah satu Ulama Banjar yang berpengaruh pada masanya, beliau adalah ulama yang pernah menggemparkan Kalimantan dengan paham Wahdatul Wujud. Beliau dihukum mati oleh Sultan Tahmidillah atas pertimbangan Syaikh Muhammad Arsyad Al Banjari yang ketika itu menjabat sebagai Mufti Besar.
Dalam sejarah pemikiran keagamaan di Kalimantan Selatan pada abad ke-18, setidaknya ada tiga tokoh ternama di Kesultanan Banjar, tiga tokoh tersebut adalah:
Syaikh Muhammad Arsyad Al Banjari atau Datu Kalampayan.
Syaikh Muhammad Nafis Al Banjari atau Datu Nafis.
Syaikh Abdul Hamid atau Datu Abulung.
Dan sosok Datu Abulung inilah yang penuh misteri hingga saat ini. Pada masa Kesultanan Banjar diperintah oleh Sultan Tahlilullah, saat itulah Syaikh Muhammad Arsyad Al Banjari dan Datu Abulung muda diberangkatkan ke Makkah Al Mukarramah untuk menuntut ilmu agama dengan biaya dari kesultanan, diharapkan nantinya mereka bisa membawa sinar terang bagi Kesultanan Banjar. Sepulangnya dari menuntut ilmu di Tanah Suci Makkah Al Mukarramah (ketika itu Kesultanan Banjar diperintah oleh Sultan Tahmidillah), Datu Abulung mulai mengajarkan ilmu yang didapatnya dari guru-gurunya kepada masyarakat di sekitarnya. Di antara yang beliau ajarkan adalah ilmu Tasawwuf, namun ilmu Tasawwuf yang beliau ajarkan kepada orang awam ini sangat berlainan dengan pelajaran Tasawwuf yang selama ini dikenal masyarakat. Datu Abulung mengajarkan bahwa:
"Tidak ada wujud kecuali Allah, tidak ada wujud selainnya. Dia adalah aku, aku adalah dia."
Dalam pelajaran Datu Abulung juga diajarkan bahwa syariat yang diajarkan selama ini hanya kulit belum sampai kepada isi (hakikat), sedangkan pelajaran yang selama ini diyakini masyarakat umum yaitu tiada yang berhak dan patut disembah selain Allah, Allah adalah khalik dan selainnya adalah makhluk, tiada sekutu baginya. Ajaran Datu Abulung ini dipengaruhi oleh aliran ittihad Abu Yazid Al Bushthami dan Husein bin Manshur Al Hallaj yang kemudian masuk ke Indonesia melalui Hamzah Fansuri, Syamsuddin As Sumatrani, dan Syaikh Siti Jenar.
Mendengar fatwa Datu Abulung yang berbeda dari kebanyakan paham masyarakat pada waktu itu, maka gemparlah masyarakat, bahkan ajaran yang beliau sampaikan menjadi pembicaraan masyarakat umum yang mana akhirnya sampai ke telinga Raja Banjar ketika itu yaitu Sultan Tahmidillah. Sebelum Datu Abulung dipanggil, sultan terlebih dahulu meminta pendapat Syaikh Muhammad Arsyad Al Banjari yang ketika itu menjabat sebagai Mufti Besar (satu riwayat mengatakan tanpa diketahui Syaikh Arsyad) tentang ajaran Datu Abulung tersebut. Setelah menelaah beberapa kitab, diambil kesimpulan bahwa ajaran yang dibawa Datu Abulung yang diajarkan kepada orang awam tersebut bisa menyesatkan masyarakat dan bisa merusak kehidupan beragama. Adalah kewajiban bagi ulama dan umara melindungi keagamaan rakyatnya dari unsur-unsur yang membahayakan, jika tidak dapat dengan jalan damai maka lebih baik menyingkirkannya. Menolak mafsadah (keburukan) lebih didahulukan daripada mengambil manfaat, melenyapkan seseorang untuk menyelamatkan orang banyak dibolehkan menurut hukum, bahkan terkadang wajib hukumnya.
Berdasarkan keputusan tersebut, maka dipanggillah Datu Abulung. Salah seorang prajurit kesultanan disuruh untuk mendatangi Datu Abulung, setelah sampai di tempat Datu Abulung lalu dipanggillah beliau.
Prajurit itu berkata: Hai Syaikh Abdul Hamid, engkau dipanggil Baginda Sultan!
Kemudian dijawab oleh Datu Abulung: Abdul Hamid tidak ada, yang ada hanya Allah ta'ala!
Mendengar jawaban tersebut, prajurit itu lalu mengadukan kepada sultan. Kemudian sultan menyuruh kembali dan memanggil Allah ta'ala.
Setelah sampai di tempat Datu Abulung, prajurit itu kembali berkata: Hai Allah, engkau dipanggil Baginda Sultan!
Kemudian dijawab kembali oleh Datu Abulung: Allah tidak ada, yang ada hanya Nur Muhammad!
Mendengar jawaban itu, prajurit kembali ke kesultanan dan mengatakan hal tersebut kepada sultan. Kemudian sultan memerintahkan agar dipanggil ketiganya yaitu Syaikh Abdul Hamid, Allah ta'ala, dan Nur Muhammad. Setelah prajurit tersebut memanggil seperti dipesankan oleh sultan, barulah Datu Abulung bersedia datang ke istana.
Di tengah perjalanan menuju istana, dipasanglah perangkap yang apabila diinjak maka melesatlah sebilah tombak tajam yang akan menghujam ke tubuh orang yang menginjaknya. Saat itu terbukti kebenaran ajaran Datu Abulung. Ketika beliau menginjak perangkap tersebut, tombak tajam itu memang melesat dengan cepatnya di udara, namun berhenti tepat di belakang Datu Abulung dan jatuh ke tanah tanpa beliau mengetahuinya. Setelah sampai di istana dan terjadi tanya jawab, sultan ingin bukti kebenaran ajaran Datu Abulung. Kemudian beliau berucap "asyhadu allaa ilaaha illallaah" tiba-tiba tubuh beliau menghilang, kemudian terdengar lagi suara "wa asyhadu anna muhammadarrasulullaah'' timbullah kembali tubuh beliau. Semua orang kagum melihat hal tersebut, tetapi dengan menimbang untuk keselamatan orang awam yang lebih banyak, maka dihukumlah Datu Abulung dengan dimasukkan ke dalam kerangkeng yang ukurannya hanya muat tubuh beliau dan hanya cukup untuk berdiri. Dengan kurungan seperti itu beliau ditenggelamkan di Sungai Lok Buntar, maka akhirnya beliau tenggelam ke dasar sungai.
Lalu suatu keanehan terjadi, apabila tiba waktu shalat fardhu, maka kerangkeng tersebut akan muncul dari permukaan sungai dan Datu Abulung terlihat sedang melaksanakan shalat. Setelah selesai shalat, maka secara perlahan kerangkeng tersebut tenggelam kembali ke dasar sungai.
Pada suatu malam menjelang subuh, sepuluh orang pencari ikan yang berada di sekitar tenggelamnya Datu Abulung lamat-lamat mereka mendengar suara adzan, perlahan-lahan mereka mendekati sumber suara adzan tersebut, dari kejauhan mereka melihat keganjilan dan keanehan Datu Abulung. Sejak saat itu mereka mengangkat Datu Abulung menjadi guru mereka, dari beliau mereka belajar berbagai macam ilmu agama Islam. Karena jumlah mereka sepuluh, maka dinamakan orang sepuluh atau sekarang orang-orang menyebutnya Datu Sepuluh. Setelah selesai belajar, orang sepuluh ini menjadi pegawai di Kesultanan Banjar.
Setelah direndam dalam air dan Datu Abulung tidak juga mati, maka beliau kembali dibawa ke istana. Di hadapan sultan, Datu Abulung mengatakan bahwa beliau tidak bisa dibinasakan dengan alat apa pun kecuali dengan senjata yang ada di dinding rumah beliau dan menancapkannya di dalam daerah lingkaran yang beliau tunjuk yaitu di belikat beliau. Setelah shalat dua rakaat, senjata tersebut ditancapkan di belikat beliau yang sudah ditandai tersebut oleh para Algojo Raja, maka memancarlah darah segar dari tempat itu. Dan anehnya darah tersebut membentuk kalimat "laa ilaaha illallaah muhammadurrasulullaah.''
Melihat kejadian ini, Sultan Tahmidillah tersadar akan kebenaran Datu Abulung, sultan kemudian membangun sebuah masjid yang diberi nama Masjid Jami' Syaikh Abdul Hamid Abulung sebagai bentuk penebusan dosa karena telah memerintahkan para Algojo Raja untuk mengeksekusi Datu Abulung.
Datu Abulung dinilai kering karya, karena hingga saat ini hanya ada beberapa fragmen yang menyiratkan pandangan beliau mengenai Tasawwuf yang bisa dilacak dan itu pun sangat terbatas. Di Kalimantan Selatan sendiri sekarang ada sebuah karya yang disinyalir kepunyaan Datu Abulung, naskah itu berisi tentang pandangan Tasawwuf Wujudiyah Mulhid berupa pembahasan mengenai asal kejadian Nur Muhammad.
Setelah sekian lama tidak diketahui keberadaannya, akhirnya makam Datu Abulung ditemukan oleh masyarakat atas petunjuk dari Tuan Guru H. Muhammad Nur Takisung yang juga diyakini sebagai seorang Wali Allah dan merupakan keturunan generasi ke-5 dari Datu Abulung sendiri. Makam beliau tidak pernah terendam air meskipun air sungai sedang meluap dan makam-makam di sekitarnya tenggelam. Wallahu a'lam bish shawab.
Silsilah Syaikh Abdul Hamid (Datu Abulung):
Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.
Sayyidatuna Fatimah Az Zahra.
Sayyidina Hasan Al Mujtaba.
Hasan Al Mutsanna.
Abdullah Al Mahdi.
Musa Al Jun.
Abdullah Ar Ridha.
Musa Ats Tsani.
Muhammad Ats Tsair.
Abdullah Al Akbar.
Ali As Salami.
Sulaiman.
Husein.
Isa.
Abdul Karim.
Muta'a.
Amir Idris.
Amir Qatadah.
Ali Akbar.
Amir Hasan Abu Sa'ad.
Amir Muhammad Abu Numai Al Awwal.
Amir Rumaitsah.
Amir Ajlan.
Sultan Syarif Ali Al Barakat.
Sultan Syarif Sulaiman Al Qanuni.
Sultan Syarif Bolkiah Shah Alam.
Pangeran Syarif Muhammad Tajuddin Al Akbar.
Sultan Syarif Saiful Rizal Nurul Alam.
Sultan Syarif Muhammad Hasan.
Sultan Syarif Ibrahim Ali Omar Shah (Sultan Sarawak Pertama).
Syaikh Sulaiman.
Syaikh Abdul Majid (Syaikh Tutu).
Syaikh Abdul Hamid.
Sumber:
- Ahmad Khatib
Jadwal Rutinan
Punya data guru, majelis, amalan atau catatan pengajian?
Jadilah Kontributor Syaikhuna dan bantu memperkaya data dakwah di Kalimantan.