Detail Guru
Syekh Ahmad Jamhuri
Tentang Guru
Syekh Ahmad Jamhuri Al-Banjari; Khadim Syekh Hasan Masysyat
Ulama yang turut mengharumkan nama Banjar di Tanah Suci Makkah adalah Syekh Ahmad Jamhuri. Ulama kelahiran Banjarmasin pada tahun 1940 ini adalah salah satu pengasuh majelis taklim di Makkah.
Sewaktu muda, Syekh Jamhuri menuntut ilmu di Pondok Pesantren Darussalam Martapura. Tidak diketahui, apakah beliau sampai lulus di pesantren ini. Namun yang jelas beliau sudah menguasai ilmu tingkat dasar, sehingga keilmuan tersebut memudahkan beliau belajar dengan para ulama di Tanah Suci yang menggunakan Bahasa Arab sebagai bahasa komunikasi.
Pada tahun 1963 beliau menunaikan ibadah haji dan memutuskan menetap di Mekkah. Selama di Makkah beliau mengaji dengan banyak ulama Makkah di masa itu, di antaranya kepada Syekh Hasan Masysyat (1899–1979 M). Diriwayatkan, pada ulama besar yang satu ini Syekh Ahmad Jamhuri menjadi khadim (melayani guru).
Selain pada Syekh Hasan Masyat, beliau juga berguru pada Syekh Muhammad Al Arabi, Syekh Sayyid Alawi Al-Maliki, Syekh Sayyid Amin Kutbi, Syekh Muhammad Yasin Al Fadani dan Syekh Ismail Zein Al Yamani (Pada beliau Syekh Jamhuri mengaji sejak tahun 1970/1391 H).
Setelah cukup lama mengaji dengan para ulama jempolan di Tanah Suci, Syekh Jamhuri kemudian mengasuh majelis taklim di kediaman beliau di daerah Al Hujun-Makkah, sekira 2 kilometer dari Masjidil Haram. Kajian beliau ramai dihadiri para santri dari berbagai daerah di Indonesia.
Syekh Jamhuri tidak hanya berdakwah dengan lisan, beliau juga menuliskan beberapa karya tulis, di antaranya:
1. Siapakah yang Mewarisi Surga dan yang Memasuki Api Neraka (من يرث الجنة و من يدخل النار )
2. Hukum Ketawa dan Senyum (فتح الملك العلام بأحكام الضحك والابتسام )
3. Kasidah "Hembusan Wewangian Ambar dalam Pujian bagi Sebaik-baik Makhluk" (نفحات عنبرية في مدح خير البرية)
4. Kewajiban Muslim Terhadap Al-Qur'anul Karim (اداب المسلم مع القران الكريم )
5. Renungan di Tanah Suci disertai Panduan Haji dan Umrah (تأملات في الأرض المقدسة مع دليل الحج و العمرة)
6. Qasidah Jalaaliyah
7. Shalawat 10
8. Syair Irham Ilahi walidai
Syekh Ahmad Jamhuri wafat pada Senin 27 April 2015 bertepatan dengan 8 Rajab 1436 H.
“Al-Marhum dishalatkan di Masjidil Haram tadi malam (Senin malam) ba’da isya dan dimakamkan di Ma’la, Makkah Al-Mukarramah,” demikian kabar yang ditulis seorang staf diplomat Indonesia di laman Facebook KJRI Jeddah, Selasa (28/04/2015).
Qasidah Birrul Walidain
Qasidah Birrul Walidain karya Syekh Ahmad Jamhuri didoakan oleh sang guru, Syekh Hasan Masyath.
Qasidah yang digubah beliau tersebut disenangi oleh Rasulullah SAW.
Diceritakan, ada orang yang bermimpi bertemu orangtuanya. la melihat ayahnya dalam keadaan sedih. Kubur ayahnya juga tidak pernah ditumbuhi rerumputan dan bunga selama 13 tahun karena panas; lalu si anak ini membaca Qasidah Birrul Walidain yang disusun oleh Syekh Ahmad Jamhuri.
Subhanallah, ia bermimpi kembali, ortunya dalam keadaan senang. Setelah itu ia tanami rerumputan di atas kubur ortunya, dan bisa tumbuh.
Isi qasidahnya memang menyentuh hati.
Sanad ijazah tertinggi
Sanad ijazah tertinggi yang antar perawi berjarak ribuan tahun adalah ijazah Nabi Ibrahim kepada Nabi Muhammad SAW pada malam Isra dan Mi'raj.
Nabi Ibrahim berpesan kepada Nabi Muhammad SAW agar memerintahkan umatnya memperbanyak tanaman di kebun surga. Bagaimana caranya?
Ucapkan, Subhanallah wal hamdu lillah wa la Ilaha illallah Wallahu Akbar. Dalam riwayat lain ditambahkan Wa la hawla wa la quwwata Illa Billahil-aliyyil azhim.
Demikian ijazah yang disampaikan oleh Syekh Ahmad Jamhuri Al-Banjari Al-Makki, dari guru beliau Syekh Ismail Zein Al-Yamani.
Sanad terus bersambung sampai kepada sahabat Ibnu Mas'ud, dari Nabi Muhammad SAW. Nabi Muhammad langsung dari Nabi Ibrahim alaihissalam.
Kata Imam Nawawi, ini adalah sanad tertinggi yang pernah ada.
Sumber:
- Muhammad Bulkini
- Nur Hidayatullah
Jadwal Rutinan
Punya data guru, majelis, amalan atau catatan pengajian?
Jadilah Kontributor Syaikhuna dan bantu memperkaya data dakwah di Kalimantan.