Masuk

Detail Guru

Foto Tuan Guru KH. Mahfuz Amin

Tuan Guru KH. Mahfuz Amin

PEMANGKIH, LABUAN AMAS UTARA, KALIMANTAN SELATAN
Dikontribusikan oleh
Admin Syaikhuna

Tentang Guru

Manaqib Tuan Guru Mahfuz Amin: Sang Perintis Ponpes Ibnul Amin Pamangkih

Kelahiran dan Dasar Pendidikan

Tuan Guru Mahfuz Amin dilahirkan pada 23 Rajab 1332 H atau bertepatan dengan tahun 1914 M di Desa Pamangkih, Barabai. Beliau memulai perjalanan intelektualnya di bawah bimbingan langsung sang ayah, H. Muhammad Ramli. Di bawah asuhan orang tuanya, Mahfuz Amin muda berhasil menamatkan Al-Qur'an tahap pertama dan mendalami dasar-dasar ilmu ibadah.

Sebagaimana anak-anak seusianya kala itu, beliau juga menempuh jalur pendidikan formal:

  • Volksschool (Sekolah Rakyat) selama tiga tahun di desanya.

  • Vervolgschool selama dua tahun di Desa Banua Kupang.

Setelah menyelesaikan pendidikan tersebut, beliau tidak lagi masuk ke sekolah formal, melainkan fokus pada sistem pendidikan tradisional. Beliau memperdalam kitab kepada seorang tuan guru muda bernama Hasbullah bin Abdurrahim.

Haus akan ilmu agama, beliau kemudian melanjutkan langkah ke wilayah Nagara yang kala itu masyhur sebagai gudangnya para ulama khusus untuk mendalami Ilmu Fikih dan Ilmu Falak. Di Nagara, beliau berguru kepada Tuan Guru Muhammad Ali Bayanan dan Tuan Guru Mukhtar Kampung Kawat.

Rihlah Ilmiah ke Haramain (1938)

Pada tahun 1938, dalam usia 24 tahun, Tuan Guru Mahfuz Amin berangkat ke Tanah Suci Mekkah bersama istri beliau, Saudah binti M. Arsyad. Selain untuk menunaikan ibadah haji, keberangkatan ini memantapkan langkah beliau untuk bermukim dan menuntut ilmu.

Beliau aktif mengikuti halaqah-halaqah keilmuan di Masjidil Haram. Dalam ingatan beliau, saat itu terdapat tidak kurang dari 35 halaqah ilmiah yang tersebar di setiap sudut masjid. Di tempat suci ini, beliau menyerap ilmu dari banyak ulama besar, antara lain:

  • Syekh Muhammad Yasin Al-Fadani (Musnid Zaman)

  • Syekh Abu Bakar bin Sulaiman (Tambun, Bekasi)

  • Syekh Abdul Qadir Mandailing

  • Syekh Anang Sya’rani Arif (Martapura)

  • Syekh Abdurrahim Kalantan & Syekh Muhammad Nuh Kalantan

  • Syekh Muhammad Ahyad Bogor

  • Syekh Abdul Perak (Malaysia)

  • Syekh Abdul Jalil Al-Maqdisi (Solo)

Selain belajar kitab secara khusus, beliau juga menghadiri majelis-majelis ilmiah para ulama besar seperti Sayyid ‘Alawi bin Sayyid ‘Abbas Al-Maliki, Sayyid Muhammad Amin Kutbi, Syekh Muhammad Hasan Masysyat, dan Tuan Guru Mukhtar Ampanan.

Catatan Sejarah Jaringan Jawi

Daftar guru beliau menunjukkan sebuah kecenderungan menarik: Tuan Guru Mahfuz Amin lebih memilih mendalami kitab secara intensif kepada para ulama faksi Jawi (Nusantara dan Malaya). Langkah ini diambil demi kemudahan komunikasi dua arah yang efektif antara guru dan murid, sebuah metode yang juga disukai oleh ayahanda beliau terdahulu.

Selama berada di Mekkah, beliau juga menjalin persahabatan erat dengan sesama penuntut ilmu asal Banjar yang kelak menjadi ulama berpengaruh, seperti Syekh Abdul Karim Al-Banjari, Tuan Guru H. Salman Jalil, Tuan Guru Salman Bujang, dan Tuan Guru H. Hasyim Mukhtar (Pendiri SMIH Martapura).

Kembali ke Tanah Air di Masa Pendudukan Jepang

Setelah tiga tahun menimba ilmu, Tuan Guru Mahfuz Amin memutuskan pulang ke tanah air bersama salah seorang gurunya, Syekh Abu Bakar bin Sulaiman Tambun.

Sebelum sampai di kampung halaman, beliau sempat singgah dan beristirahat di Batavia (Jakarta) yang kala itu baru saja dikuasai oleh pasukan Jepang. Tepat pada 8 Oktober 1941, beliau dan istri tiba kembali di Pamangkih. Kepulangan ini menjadi babak baru bagi beliau yang saat itu masih berusia 27 tahun untuk mulai berkhidmat mengembangkan ajaran Islam.

Mendirikan Pondok Pesantren Ibnul Amin (1958)

Pada tahun 1958 M, di usia 44 tahun, Tuan Guru Mahfuz Amin mendirikan Pondok Pesantren Ibnul Amin Pamangkih sekaligus bertindak sebagai pimpinan utamanya.

Beliau menerapkan pola pendidikan Pesantren Salaf (Tradisional) yang murni dengan penekanan kuat pada penguasaan ilmu Nahwu dan Saraf sebagai ciri khas utamanya. Karakter kurikulum yang kuat ini terbukti sukses luar biasa dalam mencetak kader-kader ulama baru.

Dalam hitungan dekade, Ponpes Ibnul Amin berkembang pesat menjadi salah satu episentrum pendidikan Islam terbesar di kalangan masyarakat muslim Banjar. Santri-santrinya berdatangan dari berbagai pelosok Kalimantan Selatan hingga luar pulau, dengan daya tampung asrama mencapai kisaran 2.000 santri aktif setiap tahunnya dan telah melahirkan puluhan ribu alumni.

Karya Tulis Monumental

Di sela-sela kesibukannya mengasuh pesantren, beliau sempat menulis beberapa karya berbobot sebagai panduan santri:

  1. Kitab Tasrif (Panduan dasar perubahan kata bahasa Arab)

  2. Mukhtashar Hall al-Ma’qud fî Nazhm al-Maqshud (Saraf)

  3. Al-Ma’lulah fî Mukhtashar Manahij al-Hamidiyyah (Ilmu Falak/Astronomi Islam)

Wafat dan Estafet Keilmuan

Setelah 37 tahun mendedikasikan hidupnya untuk memimpin Ponpes Ibnul Amin, Tuan Guru Mahfuz Amin wafat pada tahun 1995 dalam usia 81 tahun.

Eksistensi beliau berhasil menciptakan jaringan horizontal dan vertikal ulama yang sangat kuat di Hulu Sungai. Di antara sekian banyak ulama besar dan berpengaruh yang merupakan murid langsung beliau adalah:

  • Tuan Guru Muchtar Hs (Penerus kepemimpinan Ponpes Ibnul Amin)

  • TGH. Muhammad Bakhiet (Pimpinan Majelis Taklim Al-Anwar Barabai)

  • Tuan Guru Abdul Aziz (Sungai Tabukan, Alabio)

  • Tuan Guru Ahmad (Basirih)

  • Tuan Guru Sutera Ali (Tamban)

  • Tuan Guru Athaillah (Alabio)

  • Tuan Guru Ahmad (Kelua)

  • Tuan Guru Kusasi (Samuda, Kalteng)

  • Tuan Guru Muhammad Abrar Dahlan (Sampit)

  • Tuan Guru Bahran Jamil (Barabai)

Sumber:

  • Jaringan Intelektual Ulama Banjar XIX-XX

Jadwal Rutinan

Punya data guru, majelis, amalan atau catatan pengajian?

Jadilah Kontributor Syaikhuna dan bantu memperkaya data dakwah di Kalimantan.

Program Kontributor