Detail Jadwal
Rutinan Malam Selasa
Kajian Kitab Riyadhus Shalihin
Majelis:
Nurul Muhibbin Barabai
Penceramah:
KH. Muhammad Bakhiet
Waktu:
Setiap Senin, 20.00 WITA
Status:
Aktif
Catatan Jadwal
Silakan login untuk menulis catatan pada jadwal ini.
Muhammad Khaidir
08 Juni 2026
Publik
Kitab Riyadush Shalihin, bab 46
OLEH : ABAH GURU KH. MUHAMM...
Kitab Riyadush Shalihin, bab 46
OLEH : ABAH GURU KH. MUHAMMAD BAKHIET AM
-Pengajian Malam Selasa-
23 Dzulhijjah 1447 / 8 Juni 2026
KEUTAMAAN MENCINTAI KARENA ALLAH
(Sambungan bab 46 pekan lalu)
Dalam sebuah hadits shohih Rasulullah bersabda tentang Qaum Anshar :
"Tidak cinta dengan mereka melainkan orang yang beriman. Dan tidak benci dengan mereka melainkan orang munafiq. Barangsiapa yang cinta dengan mereka maka Allah cinta kepadanya. Dan barangsiapa yang benci kepada mereka maka Allah pun benci kepadanya."
Rasulullah mempunyai dua sayap : Yang pertama adalah Qaum Anshar, dan yang kedua adalah Qaum Muhajirin.
Qaum Muhajirin adalah orang-orang yang awal-awal masuk Islam yang kemudian berhijrah ke Madinah.
Qaum Anshar adalah orang-orang Madinah yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, merekalah yang menyambut kedatangan Rasulullah beserta Qaum Muhajirin di Madinah.
Kedua qaum ini masing-masing dipersaudarakan oleh Rasulullah.
Di Madinah ada dua qabilah, yakni Qabilah Aus dan Khazraj. Mereka inilah yang disebut Qaum Anshar. Di antaranya : Anas bin Malik, Muadz bin Jabal, Ubay bin Ka'b, dll.
Bagaimanakah saling mencintai/berkasih sayang karena Allah itu?
1. Saling menasihati dalam kebaikan.
2. Saling tolong menolong dalam taat kepada Allah.
3. Saling menjaga hubungan.
4. Saling menjaga pribadi satu sama lain.
5. Kosong dari urusan/tujuan keduniaan.
Ini termasuk amaliyah yang memiliki nilai tinggi di sisi Allah.
Mencintai orang-orang yang dicintai Allah adalah sebuah keberuntungan.
Dalam sebuah hadits:
"Allah berfirman: Pasti mendapatkan cinta-Ku bagi orang-orang yang saling mencintai karena AKU."
Dalam hadits lain, Rasulullah menyuruh agar kita memberitahu orang yang kita cintai bahwa kita mencintainya.
Mu'adz lahir 18 tahun sebelum Nabi hijrah ke Madinah, dan wafat 15 tahun setelah Nabi hijrah ke Madinah. Beliau adalah sahabat yang pernah mendapatkan pengakuan cinta langsung oleh Rasulullah 'bahwa Rasulullah mencintainya'.
Wasiat Rasulullah kepada Mu'adz bin Jabal :
"Jangan pernah engkau tinggalkan setiap selesai sholat membaca :
اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ
@santrinurulmuhibbin14
----------
Hati-hati meletakkan ke dalam hati kita yang berharga itu dengan sesuatu yang dimurkai Allah. Dan isilah hati kita dengan cinta kepada orang-orang yang dicintai Allah dan Rasul.
Pikirkanlah, "Apakah selama ini kita sudah maksimal untuk mendapatkan cinta Allah?". Kecintaan kita kepada Allah itu bisa kita ukur, karna orang yang cinta itu sudah pasti ingat. Allah tidak melarang kita mencintai siapapun, tapi menetapkan cinta kepada Allah tetap di atas segala-galanya.
@stnraaisyah_
Muhammad Khaidir
01 Juni 2026
Publik
Kitab Riyadush Shalihin, bab 46
OLEH : ABAH GURU KH. MUHAMMA...
Kitab Riyadush Shalihin, bab 46
OLEH : ABAH GURU KH. MUHAMMAD BAKHIET AM
-Pengajian Malam Selasa, 1 Juni 2026-
KEUTAMAAN MENCINTAI KARENA ALLAH D
KEUTAMAAN MENCINTAI KARENA ALLAH DAN ANJURAN ATASNYA. DAN MEMBERITAHUKAN KEPADA ORANG YANG DICINTAI BAHWA DIA MENCINTAINYA, SERTA APA YANG DIA KATAKAN KEPADANYA JIKA MEMBERITAHUKANNYA.
Misalnya mencintai seorang yang ahli ibadah atau seorang alim karena Allah. Dan ini praktiknya sulit bagi orang yang imannya lemah.
Kepada yang tidak seagama kita boleh menjalin hubungan pertemanan atau bisnis, berbuat baik kepada mereka, tetapi tetap tegas, dan dilarang mencintai mereka. Kepada sesama muslim kita disuruh saling menyayangi
Sabda Rasulullah shalallahu alaihi wasallam : "Ada 3, barangsiapa yang 3 ini ada padanya maka ia akan mendapatkan manisnya iman :
1. Bahwa Allah dan rasul-Nya lebih ia cintai daripada siapa pun/apa pun selain keduanya
2. Dia mencintai seseorang, dia tidak mencintai orang itu melainkan semata-mata karena Allah
3. Dia benci kembali kepada kekafiran setelah Allah selamatkan dia dari kekafiran itu, sebagaimana dia benci bahwa dirinya dilempar ke dalam api."
"Ada 7 orang yang menaungi akan mereka oleh Allah pada hari di mana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya (hari qiyamat) :
1. Pemimpin yang adil. Pemimpin yang menjalankan undang-undang Allah.
2. Pemuda yang hidupnya untuk beribadah kepada Allah. Artinya kebanyakan waktu masa mudanya ia gunakan untuk beribadah.
3. Seseorang yang hatinya ia gantungkan di mesjid.
4. Dua orang yang saling mencintai karena Allah. Mereka berkumpul karena Allah dan mereka berpisah pun karena Allah.
5. Seorang laki-laki yang diajak maksiat oleh perempuan yang punya harta dan kecantikan, tapi dia berkata : "Aku takut kepada Allah."
6. Seseorang yang bersedekah dengan sedekah sunnah kemudian dia sembunyikan, sehingga tangan kirinya tidak tahu apa yang dilakukan oleh tangan kanannya.
7. Seseorang yang berada di tempat yang sunyi/keadaan sepi, dan dia menangis ingat kepada Allah." [Hadits shohih]
Dalam Tashawuf :
Kalau kau menerima pemberian orang, maka ambillah pemberian itu di depan orang lain. Kalau kau memberi kepada orang, maka berikanlah di tempat yang tidak dilihat oleh orang lain.
Muhammad Khaidir
20 April 2026
Publik
Catatan pengajian malam selasa ponpes
Nurul Muhibbin Barabai...
Catatan pengajian malam selasa ponpes
Nurul Muhibbin Barabai, Senin 20 April
2026 .
Masuk ke bab 42 yaitu bab keutamaan teman-teman ayah, teman-teman ibu, teman-teman keluarga, teman-teman istri, dan sekalian orang yang di sunnatkan memuliakannya.
Disini disebutkan kalimat الأَصْدِقَاءُ jamak daripada صَدِيْقٌ (mufrad).
رَفِيْقٌ =
seperti teman seperjalanan, teman usaha
صَادِقٌ =
kawan dengan yang didalamnya ada perasaan cinta
Bahasa arab adalah bahasa yang paling sempurna, karena bahasa surga, bahasa Al-Qur’an, dalam surga kata-kata yang selain bahasa arab tidak akan mampu menunjuk barang yang di surga.
Ayah kita punya teman, yang teman beliau ini sekaligus ada cinta beliau di dalamnya, baik laki-laki ataupun perempuan (ibu sambung).
Dan ibu kita juga punya teman, tapi teman yang disenangi, baik laki-laki atau perempuan, kalau laki-laki misalnya itu (ayah sambung).
Kalau misalnya ibu/ayah punya pacar, itu munkar, tidak masuk dalam bab ini, ini perkara yang di haramkan oleh Allah.
Teman-teman istri, kalau istri banyak punya teman, apalagi sosialita, jadi selama teman istri itu tadi tidak masuk ke hal-hal kemaksiatan, maka wajib kita hormati (sebagai suami), tapi kalau pertemanan nya masuk ke hal-hal kemaksiatan, maka kita tidak boleh cinta kepada teman-teman nya, dan istri pun tidak perlu dicintai kalau suka maksiat.
Dan sekalian orang yang di sunnatkan memuliakannya.
Jadi ini bagian dari amaliah-amaliah kita, yang tanpa kita sadari ini adalah sangat meninggikan derajat kita di sisi Allah.
Kalau kita tahu itu kesayangan ibu, lalu kita senyum dan kita hormati teman-teman ibu kita, maka kita mendapatkan pahala, jadi jangan sekali-kali kita benci terhadap orang yang disayangi orang tua kita, dan ini termasuk benci kepada kedua orang tua kita.
Dan ini berlaku baik orang tua kita masih hidup ataupun sudah wafat.
Kalau orang tua kita sudah wafat, maka kita yang menyambung silaturrahmi dengan teman ayah itu, jangan sampai putus, ini adalah amaliah yang dapat meninggikan derajat kita di sisi Allah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ أَبَرَّ الْبِرِّ أَنْ يَصِلَ الرَّجُلُ أَهْلَ وُدِّ أَبِيهِ
Paling sempurna kebaikan, bahwa menghubungi seseorang itu akan kekasih orang tuanya.
Misalnya dulu ayah kita akrab dengan seseorang, lalu kita hubungi, dan ini sunnah, ujar Rasulullah bahwasanya paling sempurna kebaikan bahwa menghubungi seseorang akan kesayangan orang tuanya.
Ini ajaran Nabi yang perlu kita lestarikan.
Datang laki-laki dari bani salimah, lalu berkata kepada rasulullah, wahai Rasulullah, jika ayahku meninggal dunia bagaimana lagi caranya aku berbakti kepada ayah yang telah meninggal itu, adakah lagi sisa cara untuk berbakti kepada kedua orang tua yang telah meninggal dunia?
Maka Rasulullah menjawab, ada cara untuk berbakti kepada orang tua yang sudah wafat, lalu Rasulullah mengatakan:
Mendoakan bagi keduanya.
Memintakan ampun bagi keduanya.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ
Dan meluluskan janji keduanya dari sesudah keduanya.
Mereka punya janji namun tidak sempat untuk melaksanakan, maka kita sebagai anak yang menunaikan janji itu.
Misalnya beliau punya janji menyumbang untuk masjid, namun sebelum menyumbang, beliau meninggal, maka kita tunaikan janji itu, dan sumbangkan ke masjid itu atas nama orang tua kita tadi.
Sebelum membagi harta waris, kita tunaikan dulu janji-janji beliau yang belum terlaksana.
Menyambung silaturrahmi dengan keluarga yang dulunya dijalani oleh beliau.
Perbuatan kita yang seperti ini bisa menghilangkan azab beliau di dalam kubur, kalau seandainya di alam kubur beliau diazab.
Memuliakan صَادِقٌ - صَادِقٌ beliau (teman yang didalamnya ada cinta).
Ini cara kita untuk menyenangkan kedua orang tua kita di alam kubur, dan ini disepakati oleh seluruh mazhab, dan disepakati oleh seluruh ulama, dan perbuatan seperti ini pahalanya akan sampai kepada kedua orang tua kita yang sudah wafat.
عَائِشَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا
Ujar sayyidah aisyah tidaklah aku cemburu atas seseorang dari istri-istri nabi, istri nabi saw ada 11, tidaklah aku cemburu diantara yang 11 itu seperti aku cemburu nya kepada sayyidah khadijah itu, padahal sayyidah aisyah tidak sempat bertemu dengan sayyidah khadijah, karena sayyidah aisyah nikah dengan nabi setelah sayyidah khadijah wafat, namun sayyidah aisyah sangat cemburu kepada sayyidah khadijah, karena sebab nabi saw sering menyebut-nyebut sayyidah khadijah.
Bahwa seorang laki-laki itu seandainya punya istri sudah meninggal, istri yang satunya masih ada, lalu diceritakan kebaikan istri yang telah meninggal itu, dan ini tidak salah, dan tidak mengapa, karena nabi saw ini selalu menyebut kebaikan sayyidah khadijah dihadapan sayyidah aisyah.
Seandainya istri ini cemburu karena mendengar cerita dari suaminya, ini tidak mengapa, asalkan istri ini tidak mengata yang tidak baik kepada suaminya.
Nabi Saw itu beliau suka memotong kambing, lalu diberikan kepada teman-temannya sayyidah khadijah, jadi kita menyenangkan teman-teman almarhum/ah, maka pahalanya sampai kepada almarhum/ah itu, dan ini langsung dari perbuatan nabi Saw itu sendiri.
Nabi Saw karena sering menyebut nama sayyidah khadijah, lalu sayyidah aisyah menjawab seperti tidak ada lagi dalam dunia ini selain daripada khadijah, dan berkata seperti ini kepada suami tidak mengapa, bahkan ini menambah kecintaan kepada suami.
Lalu bersabda Rasulullah ﷺ:
Bahwa khadijah itu adalah sebelum orang lain masuk islam, dia lebih dulu masuk islam, diwaktu aku kesusahan dia yang merayu ku, diwaktu aku tidak ada uang, dia yang memberikan aku uang.
Dan ujar Nabi Saw aku punya anak dengan sayyidah khadijah.
Jadi ini semua adalah pelajaran kita bagaimana Nabi mendidik kita dalam hal berumah tangga, dalam hal berkomunikasi dengan istri.
Daripada أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
Aku berangkat bersama جَرِيْرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الْبَجَلِيِّ kedua-duanya sahabat Nabi saw, jarrir ini sahabat Nabi Saw yang baru masuk islam pada tahun 9 H.
Si jarrir ini ujar anas bin malik berkhidmat kepadaku, maka berkata jarrir, sesungguhnya aku sudah melihat orang-orang anshar, bagaimana berjuangnya orang anshar bersama Nabi, lalu aku bersumpah dengan diriku sendiri, bahwa aku tidak bersahabat kepada orang anshar itu melainkan aku berkhidmat kepadanya.
Disini diambil pelajaran/hukum kita yang muda dalam segi ilmu, segi ketakwaan, segi pengalaman, kita disuruh berkhidmat kepada orang yang lebih senior dalam hal yang demikian itu, dan inilah yang dicontohkan oleh sahabat Nabi Saw.
والله أعلم بصواب.
@ibnathalib
Muhammad Khaidir
13 April 2026
Publik
Catatan pengajian malam selasa ponpes Nurul Muhibbin Barabai...
Catatan pengajian malam selasa ponpes Nurul Muhibbin Barabai, Senin 13 April 2026.
Masih mengkaji kitab riyadusshalihin, kita sampai kepada bab ke 41, lanjutan daripada bab ke 40 yaitu membahas tentang berbakti kepada orang tua dan silaturrahim, dan lanjut ke bab 41 membahas tentang haramnya durhaka kepada kedua orang tua, dan haramnya memutus hubungan tali silaturrahim.
Bab yang ke 40 itu merupakan menggemarkan kepada kita untuk selalu berbakti kepada kedua orang tua baik yang hidup maupun yang sudah wafat dengan mendoakan mereka, dan dorongan untuk berbuat baik kepada keluarga, dalam artian menjaga jangan sampai hubungan dengan keluarga itu terputus.
Bab yang ke 41 ini tentang mengharamkan durhaka kepada kedua orang tua, dan memutus hubungan keluarga.
Disini kita perlu mengkaji bagaimana itu durhaka, karena Allah dalam Al-Qur'an hanya menyatakan:
وَلَا تَقُل لَّهُمَآ أُفٍّ
Jangan mengatakan ceh kepada kedua orang tua, dan ini di haramkan, dan jangan kalian menggertak orang tua, itu perkataan yang di haramkan oleh kedua orang tua.
Contohnya sang anak minta sesuatu kepada orang tua dengan gertakan, misalnya kalau ibu atau ayah tidak membelikan sesuatu itu, maka aku berhenti sekolah. Ibu dan ayah rela berhutang demi membelikan permintaan anaknya, karena menggertak orang tua nya tadi. Itu contoh perkataan yang diharamkan oleh Allah.
Hati-hati terhadap tingkah laku kita terhadap kedua orang tua kita. Seandainya beda agama pun tetap kita tidak boleh durhaka kepada orang tua kita, apalagi yang satu agama.
Berbakti kepada kedua orang tua itu adalah suatu amaliyah yang sangat cepat meninggikan derajat dan menambah kemuliaan kita di sisi Allah, walaupun kita tidak ahli ibadah, kita hanya mengerjakan yang wajib saja, tapi kalau soal berbakti kepada kedua orang tua, dia nomor satu.
Yang kita khawatirkan itu orang tua kita sakit hati terhadap kelakuan kita, tapi orang tua takut menegur kita, dan ini paling jahat manusia sudah, haji, umroh ratusan kali pun tidak ada gunanya kalau orang tua kita sakit hati kepada kita, kalau ingin mendapatkan keridhaan Allah dengan cepat, maka bahagiakan kedua orang tua kita selagi mereka masih hidup.
وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا
Bagaimana pun kita beribadah, kalau orang tua kita sakit hati terhadap kita.
Orang yang berakal itu adalah orang yang mencari ibadah yang tinggi nilainya, paling besar ganjarannya, yaitu adalah ibadah birrul walidain, berbakti kepada kedua orang tua.
Jangan sampai kita di pandangan Allah itu anak yang durhaka, namun definisi durhaka ini tidak jelas ukurannya seperti apa, namun dalam Al-Qur'an jangan engkau berkata ceh kepada kedua orang tua.
Jadi hanya para ulama yang merumuskan lebih luas tentang bagaimana ukuran kita bisa di sebut bakti, dan mana yang disebut durhaka.
Yang disebut keluarga ini ada 2 pandangan para ulama, pandangan yang lebih kuat yang namanya keluarga yang dilarang putus hubungan keluarganya adalah seperti, keponakan, sepupu, paman (siapa-siapa yang di nisbahkan keluarga dengan kita) sejauh apapun kalau masih terhubung dengan keluarga itu maka itu tidak mengapa, namun hanya kadarnya yang berbeda.
Jangan sampai kita termasuk orang yang memutus tali silaturrahim, kita melaksanakan shalat sunnat, shalat yang wajib, puasa sunnat ataupun puasa wajib, karena kalau yang lebih wajib kita tinggalkan, otomatis ibadah yang lainnya tidak akan Allah pandang.
Ibadah kalau kita kerjakan karena Allah, maka nilainya luar biasa.
"Aku berlindung kepada Allah daripada ilmu yang tidak bermanfaat"
اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ
Allah berfirman:
فَهَلْ عَسَيْتُمْ إِنْ تَوَلَّيْتُمْ أَنْ تُفْسِدُوْا فِي الْأَرْضِ
Apa sekiranya jikalau kalian itu berkuasa, kalian itu mampu, bahwa kalian itu berbuat kerusakan dimuka bumi.
Punya kemampuan, punya kekuasaaan, lalu ternyata berbuat kerusakan, mengadakan acara kemaksiatan, punya kekuasaan, tidak perduli lagi dengan keluarga, maka itulah orang yang Allah laknat mereka, Allah tuli kan, dan Allah buta kan penglihatan mereka, kalau sudah Allah laknat, maka orang itu tidak mempan lagi dengan nasehat, dengan Al-Qur'an.
Allah berfirman:
وَقَالَ تَعَالَىٰ وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوْا إِلَّا إِيَّاهُ
Telah menetapkan Tuhan engkau (Allah yang menciptakan, yang memberi, yang menjaga), maka janganlah menyembah kepada selain-Nya.
وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا
Orang yang ingin berjihad fisabilillah pun harus berizin kepada kedua orang tua, karena kedudukan jihad itu dibawah daripada berbakti kepada kedua orang tua, dan dengan kedua orang tua itu berbuat baik lah engkau kepadanya.
Orang yang memberi kita sesuatu, lalu kita balas dengan mendoakannya, maka kita termasuk orang yang sudah berbuat baik (إِحْسَانًا), dan kepada orang tua itu tidak cukup hanya berbuat adil, tapi harus ihsan juga.
Apabila kedua orang tua engkau itu sudah tua, maka jangan engkau berkata kepada kedua orang tua itu uf, dan jangan menggertak (mengancam) kedua orang tua, dan katakan kepada kedua orang tua itu perkataan yang mulia, jangan sampai nada kita melebihi daripada nada bicara orang tua, dan rendahkan sayapmu kepada kedua orang tua daripada kehinaan disebabkan karena kasih sayang kepada kedua orang tua.
رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا
Maka doakan kedua orang tua kita, dan kita sayangi kedua orang tua kita.
فَلَا تَقُلْ لَّهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا
وَقُلْ لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا
وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ
Rasulullah saw bersabda:
Maukah kalian aku kabarkan dengan paling besar dosa besar, Rasulullah mengulang kata itu 3x, lalu Rasulullah mengatakan:
Mensekutukan Allah
Durhaka kepada kedua orang tua
Sumpah palsu, bersaksi palsu
قَوْلُ الزُّوْرِ
Jangan sampai kita lakukan, karena ini dosa besar yang paling besar.
Kita boleh taat kepada atasan kita, tapi kita tidak boleh merasa hina dengan atasan kita, tapi kalau kepada Allah itu kita wajib menghinakan diri dan ini termasuk ibadah. Kita taat serta menghinakan diri itu hanya kepada Allah, karena itu semua milik Allah.
وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِصَوَابِ
@Ibnathalib_
Muhammad Khaidir
12 Januari 2026
Publik
*Catatan Pengajian Malam Selasa Nurul Muhibbin Barabai, Seni...
*Catatan Pengajian Malam Selasa Nurul Muhibbin Barabai, Senin 12 Januari 2026*
Mengkaji bab ke-39 dari Riyāḍuṣ-Ṣāliḥīn, yaitu bab tentang hak tetangga dan pesan agama mengenai hak tetangga. Bab ini menekankan pentingnya menjaga hubungan baik dengan tetangga sebagai bagian dari kesempurnaan iman.
Seorang saudara muslim diwajibkan untuk mengenali tetangganya. Kewajiban mengenali tetangga ini bertujuan agar seseorang mampu berbuat baik kepada tetangganya. Sebab, tidak mungkin seseorang dapat menunaikan hak tetangga dengan baik apabila ia tidak mengenalnya.
Menurut para ulama, tetangga terbagi menjadi empat macam. Pertama, tetangga al-qārib al-muslim, yaitu tetangga yang seagama Islam dan memiliki hubungan kekerabatan. Kedua, tetangga yang beragama Islam namun tidak memiliki hubungan keluarga. Ketiga, tetangga ghairu muslim yang rumahnya berdekatan. Keempat, tetangga yang tidak seagama dan tidak memiliki hubungan keluarga, tetapi tinggal berdampingan. Kesimpulannya, siapa pun yang rumahnya berdekatan dengan kita, dalam bentuk apa pun, tetap disebut tetangga dan memiliki hak-hak yang harus dijaga.
Tentang batasan tetangga, terdapat beberapa hadis yang tidak kuat untuk dijadikan dalil. Para ulama berbeda pendapat, ada yang mengatakan satu kompleks disebut tetangga, ada yang menyebut orang yang shalat di masjid yang sama sebagai tetangga. Namun yang paling jelas dan tidak diragukan lagi, apabila rumah seseorang berdekatan dengan rumah kita, maka ia sudah pasti adalah tetangga kita.
Diceritakan tentang salah satu wali Allah, yaitu Sahal bin ‘Abdillāh at-Tustarī. Rumah beliau berdampingan dengan seorang yang beragama Majusi. Air WC tetangga Majusi tersebut merembes ke dapur rumah Sahal bin ‘Abdillāh. Setiap pagi, beliau membersihkan kotoran itu tanpa mengeluh, dan hal tersebut beliau lakukan selama bertahun-tahun. Beliau menyandang semua itu dengan penuh kesabaran, sehingga beliau dikenal sebagai Sayyidus Sālikīn, pemimpin para wali di jalan suluk.
Ketika Sahal bin ‘Abdillāh sakit, beliau memanggil tetangganya dan menyampaikan dengan lembut bahwa air WC tersebut merembes ke dapur rumahnya. Mendengar kemuliaan akhlak beliau, tetangga Majusi itu akhirnya mengucapkan dua kalimat syahadat. Kisah ini menunjukkan bahwa tetangga yang berdampingan rumahnya dengan kita benar-benar memiliki hak yang besar dan wajib dijaga hubungannya dengan sebaik-baiknya.
Allah Ta‘ālā berfirman dalam Surah an-Nisā’ ayat 36:
وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ
Ayat ini memerintahkan untuk beribadah kepada Allah semata tanpa menyekutukan-Nya. Ibadah harus dilakukan dengan ikhlas, murni karena Allah. Selanjutnya Allah memerintahkan untuk berbuat baik kepada kedua orang tua. Apabila orang tua telah meninggal dunia, maka cara berbakti kepada mereka adalah dengan senantiasa mendoakannya, misalnya setelah shalat lima waktu memohon agar Allah memasukkan kedua orang tua ke dalam surga-Nya. Jika seseorang terbiasa mendoakan orang tuanya, maka anak cucunya kelak akan melakukan hal yang sama kepadanya. Sebaliknya, jika seseorang tidak peduli kepada orang tuanya, maka anaknya bisa lebih buruk lagi sikapnya.
Ayat ini juga memerintahkan berbuat baik kepada kerabat, anak yatim, orang miskin, tetangga yang memiliki hubungan keluarga, tetangga yang tidak memiliki hubungan keluarga, teman di samping yaitu istri, ibnu sabil (orang yang kehabisan bekal di perjalanan), serta hamba sahaya. Manusia diibaratkan seperti pesawat yang memiliki dua sayap, yaitu ḥablum minallāh dan ḥablum minan-nās, keduanya harus sama-sama dijaga dengan baik.
Dari Ibnu ‘Umar r.a., Rasulullah ﷺ bersabda:
مَا زَالَ جِبْرِيلُ يُوصِينِي بِالْجَارِ حَتَّىٰ ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرِّثُهُ
(Muttafaq ‘alaih)
Artinya, Jibril senantiasa berpesan kepada Rasulullah ﷺ tentang tetangga, hingga beliau mengira tetangga akan diberi hak warisan.
Dari Abu Żarr r.a., Rasulullah ﷺ bersabda:
إِذَا طَبَخْتَ مَرَقَةً فَأَكْثِرْ مَاءَهَا وَتَعَاهَدْ جِيرَانَكَ
(HR. Muslim)
Artinya, apabila engkau memasak kuah, maka perbanyaklah airnya dan perhatikanlah tetanggamu. Apabila bau masakan tercium oleh tetangga namun tidak diberi, maka hal tersebut tidak disukai oleh Rasulullah ﷺ.
Dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah ﷺ bersabda:
وَاللَّهِ لَا يُؤْمِنُ، وَاللَّهِ لَا يُؤْمِنُ، وَاللَّهِ لَا يُؤْمِنُ
قِيلَ: مَنْ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟
قَالَ: الَّذِي لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ
(Muttafaq ‘alaih)
Artinya, demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman. Para sahabat bertanya, siapa yang tidak beriman itu wahai Rasulullah? Beliau menjawab, yaitu orang yang tetangganya tidak merasa aman dari gangguannya.
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلَا يُؤْذِ جَارَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
(Muttafaq ‘alaih)
Artinya, barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka janganlah ia menyakiti tetangganya. Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia memuliakan tamu. Dan barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia berkata baik, jika tidak mampu maka hendaklah ia diam. Apabila ada gangguan dari tetangga, maka dianjurkan untuk bersabar dan menahan diri (iḥtimāl).
Mudah-mudahan ada manfaatnya, semoga kita selalu diberikan kemudahan dalam mengamalkan ilmu tersebut. 🤲🏻
✍🏻@ibnathalib_