Masuk

Detail Jadwal

Rutinan Malam Rabu

Pengajian Ilmu Tasawuf Kitab Hikam Ibnu Athaillah

Penceramah: KH. Muhammad Bakhiet
Waktu: Setiap Selasa, 20.00 WITA
Status: Aktif

Catatan Jadwal

Silakan login untuk menulis catatan pada jadwal ini.

Muhammad Khaidir
07 Juli 2026
Publik
Rasulullah SAW bersabda: "Ada 3 perkara yang mencelakakan se...
Rasulullah SAW bersabda: "Ada 3 perkara yang mencelakakan seseorang (ada 3 perkara yang membuat seseorang itu masuk ke azab Allah). Ada 3 perkara yang membuat dia selamat. Ada 3 perkara yang menebus segala kesalahan. Ada 3 perkara yang meninggikan derajat" Jadi ada 12 perkara yang kita kaji dari Hadits Rasulullah SAW ini ; # Ada pun yang membuat seseorang itu binasa (masuk neraka) Kayapa kah orang itu bila yang 3 ini ada pada dirinya masuk neraka matinya Apa yang 3 itu? 1. Sifat Syuh yang ditaatinya Syuh itu lebih bersengatan daripada bakhil/kikir (Syuh sifat kikir atau pelit yang disertai ketamakan). Kalau bakhil itu biasanya pemalar bebabari. Kikir ini membahayakan, tapi yang lebih berbahaya dari sekedar bakhil yaitu syuh Contoh orang ini ada dalam dirinya sifat syuh yang dia taati lalu akibatnya dia mengurangi takaran, mengurangi timbangan, mengurangi ukuran, kada jujur dalam muamalat. Jauh lawan memberi orang. Jauh lawan menyumbang. Kita bekerjasama lawan inya pun bisa dipintarinya kita. Orang seperti ini pasti ada punya sifat dengki dan ini mencelakakan dirinya/menjerumuskan dirinya masuk ke dalam neraka. Kalau ada bujukan di dalam hati untuk Syuh ini jangan ditaati karena menjerumuskan ke dalam neraka. Diajarkan dalam agama kita kayapa caranya meukur yang bagus, kita disuruh melebihi timbangan dalam hal ikhtiar ambil apik menyelamatkan kita dari azab Allah SWT. Hati-hati yang bejualan yang demikian ini. 2. Nafsu keinginan di dalam dirinya yang selalu diturutinya Kada betakar handak apa diturutinya, bila handak makan ini dimakannyanya, bila handak ini ditulusakannya, Yang haram kah yang halal kah kalau dari nafsu itu kada bagus Nafsu itu dalam Al-Qur'an *...** apanya haja kada bagus Kita diajarkan para salaf (pendahuluan yang Sholeh) kita makan minum tujuan utama adalah untuk menguatkan tubuh kita agar nyaman bisa taat kepada Allah, bukan kita makan kita minum bukan menuluskan kahandak nafsu kita. Berbeda dengan ulama, mereka sudah sampai levelnya bukan karena menurutkan hawa nafsu seperti Syekh Abdul Hasan Asy-Syadzili (tokoh wali sekelas Abdul Qadir Jailani) Beliau katuju kesana-kemari mencari minuman yang dingin karena jar Sidin bila minuman yang dingin aku bersyukur kepada Allah. ini orang sekelas wali, mencari yang nyaman-nyaman untuk bersyukur kepada Allah Mearit nafsu (menahan nafsu) itu artinya memihak kepada Allah, bepahala, besar pahalanya Hati-hati dengan keinginan-keinginan yang selalu dituruti, pikirkan dulu apakah ini menunjang ketaatanku kepada Allah, jangan selalu dituruti ujar Nabi 3. Ujubnya seseorang dengan dirinya Dia melihat dirinya ini banyak duit; oh aku banyak duit, dia melihat dirinya ini sehat; oh aku sehat. Dia melihat nikmat yang ada pada dirinya tapi inggat situ haja, disaat merasakan itu kada ingat menyandarkan bahwa itu adalah anugerah Allah. Ini adalah bibit kesombongan. Jangan sampai kita melihat kebaikan tidak menyandarkannya sebagai anugerah dari Allah SWT # Munjiyat menyelamatkan dari azab Allah 1. Bersikap adil di waktu marah dan di waktu senang Bersikap adil baik pada senang atau pada waktu marah. Kita biasanya kalau kita senang dengan orang itu bisa kada adil, kita kalau kita marah pada orang itu bisa kada adil jua. Kita disuruh sedang marah kah sedang senang kah kita bisa berdiri di atas hukum Allah SWT Orang kesasayangan lawan bini bisa kada adil lawan bini, kenapa?karena terlalu ridha lawan bini sehingga tingkah lakunya yang kada baik kada mau menagur lagi, padahal agama kita menuntun jangan sampai sikap kita kada jujur 2. Dia bisa bersikap di tengah fakir dan kaya Orang ini bisa menjaga diri, inya sugih bisa menjaga diri, inya susah bisa menjaga diri sehingga kada nampak orang ini beduit kah kada kah, kina pas kada baduit habis dijuali nampak banar orang ini kada baduit. Agama kita mengajarkan jangan sampai kaya itu kita mesti bersikap tenang bersikap adil 3. Takut kepada Allah baik di tempat sembunyi maupun di tempat terbuka Kadada orang di rumah sembahyang bebaju kaos, pas ke mesjid bebaju bagus berarti dia memelihara orang daripada memelihara Allah SWT # Adapun yang menebus dosa (kafarat) 1. Menunggu sembahyang sesudah sembahyang Orang ini menjadikan sembahyang itu pekerjaan utama dalam hidupnya sehingga sembahyang itu yang dia tunggu. Tuntung dia beAsar menunggu Magrib, Tuntung Magrib menunggu sembahyang Isya, jadi pekerjaan utamanya berarti menunggu sholat, bila orang seperti ini kada mau kada bebujur sembahyangnya, orang seperti ini kada mau tetinggal sembahyangnya karena bukan sembahyang yang menunggu inya tapi inya yang menunggu sembahyang 2. Menyempurnakan wudhu pada waktu bersengatan dingin Kada terpengaruh dengan cuaca walaupun musim dingin tetap menyempurnakan wudhunya 3. Berjalan menuju sembahyang berjamaah (di Masjid atau di mana kah) # yang meninggikan derajat 1. Memberi makan orang Ada kawan di warung bayarikan Mengundang orang makan ke rumah Meninggikan derajat maksudnya memarakakan kita ke surga 2. Ketuju mengucapkan salam 3. Sembahyang tahajud di tengah malam Petunjuk Nabi kita ini ada 12 perkara dari 12 ini 3 larangan sisanya anjuran-anjuran kepada kita. Yang dilarang 3 haja; 1) jangan handak mentaati Sifat Syuh, 2) keinginan itu disaring jangan terus dituruti, 3) yang ketiga jangan sampai lupa kita menyandarkan kepada Allah bila kita lupa artinya kita ujub binafsi. Kenapa wajib dihindari? Karena diharamkan dalam agama. Yang lain dianjurkan bagi kita: bersikap adil, berperilaku hidup bisa meulah jalan tengah kaya kada nampak miskin kada nampak, takut kepada Allah secara sembunyi, kadang kita kada takutan ketika sendirian di tengah orang takutan Dari sekian anjuran ini periksai dalam diri kita mana-mana anjuran yang kita laksanakan, anjuran Nabi yang 9 macam ini kita periksai pang dalam diri kita apa-apa yang belum, bersikap adil di waktu marah dan senang, bersikap tengah di waktu kaya dan fakir, takut kepada Allah dalam keadaan tersembunyi (sendirian), apabila kita sudah melaksanakan anjuran Nabi ini sudah dipastikan kita akan diberi Allah suatu kelebihan-kelebihan yang tidak diberikan kepada orang yang belum bisa melaksanakan anjuran-anjuran ini sudah kah kita memberi makan orang, tahajud, menunggu sembahyang, wudhu kita apakah berbeda ketika hari panas dan dingin Bila kita bisa melaksanakan itu kita akan diberi kelebihan seperti keramat Apabila Allah sudah memberi kita kelebihan, apa kelebihannya? seperti nikmat zikrullah (orang lain gelisah kalau dia nyaman zikrullah artinya ini sudah diberi kelebihan), dia mendapatkan kenikmatan dalam beribadah kepada Allah. Apalagi kelebihannya? Beribadah kepada Allah yang orang kada kawa inya kawa, orang kada sanggup inya sanggup kadada susah. Imam Ahmad Ibnu Ath-Tha'illah dalam Hikmah ke 20 mengatakan: "Setiap kali orang yang beribadah kepada Allah lalu diberi Allah satu kelebihan-kelebihan, bila sudah diberi Allah kelebihan-kelebihan jangan merasa sudah cukup, beribadah ini sudah nyaman lalu merasa puas; jangan jar Sidin, jangan merasa puas, kenapa? Karena kenikmatan-kenikmatan yang lebih besar masih banyak yang disediakan Allah SWT" Kadang-kadang kita mendapatkan suatu kenikmatan sudah merasa puas, rasa cukup dengan kenikmatan yang ada. Kita sudah beribadah, sudah menjalankan anjuran Allah, mentaati perintah Allah, menjauhi yang dilarangNya lalu diberi Allah kita kelebihan-kelebihan hubungan kepada Allah jangan merasa cukup disitu, masih banyak pemberian-pemberian dari yang masih disisakan untuk kita apabila kita terus meminta memohon kepada Allah SWT Senantiasa kita memeriksa diri kita, senantiasa kita memperbaiki diri kita, perbaiki tarus diri kita satu persatu yang kada baik kita tinggalkan, satu persatu yang baik kita laksanakan, supaya apa? Supaya kita beisi umur dalam keadaan berjuang memperbaiki hubungan kita dengan Allah SWT *** Majelis Ta'lim Nurul Muhibbien - Balangan Malam Rabu, 7 Juli 2026 (Sugian Ilmi - Panglima Balai)

Komentar / Koreksi

Belum ada komentar atau koreksi.

Silakan login untuk menambahkan komentar.

Muhammad Khaidir
02 Juni 2026
Publik
*Catatan Pengajian Malam Rabu Nurul Muhibbin Balangan, Selas...
*Catatan Pengajian Malam Rabu Nurul Muhibbin Balangan, Selasa 2 Juni 2026* Oleh Ayahanda KH Muhammad Bakhiet Apabila seseorang di ciptakan untuk surga di mudahkan amalan-amalan surga, berwirid, berdzikir nyaman, sholawat, baca Al-Qur'an, menuntut ilmu mudah, seperti taat dan ikhlas. Siapa di ciptakan untuk neraka di mudahkan amalan neraka, apabila orang di mudahkan berbuat maksiat berarti dia di neraka. @mardul_04

Komentar / Koreksi

Belum ada komentar atau koreksi.

Silakan login untuk menambahkan komentar.

Muhammad Khaidir
12 Mei 2026
Publik
*Catatan Pengajian Malam Rabu Nurul Muhibbin Balangan, Selas...
*Catatan Pengajian Malam Rabu Nurul Muhibbin Balangan, Selasa 12 Mei 2026* Oleh Ayahanda KH Muhammad Bakhiet Rasulullah SAW bersabda: الدُّنْيَا مَلْعُونَةٌ، مَلْعُونٌ مَا فِيهَا، إِلَّا ذِكْرَ اللَّهِ وَمَا وَالَاهُ، وَعَالِمًا أَوْ مُتَعَلِّمًا “Dunia itu dilaknat, dilaknat pula apa yang ada di dalamnya, kecuali dzikir kepada Allah dan yang berkaitan dengannya, orang alim, dan orang yang belajar ilmu.” (HR. Tirmidzi) Bahwasanya dunia itu dilaknat, dilaknat pula sesuatu yang ada di dalam dunia. Kecuali yang tidak dilaknat ialah sesuatu yang digunakan untuk Allah. Itulah yang selamat daripada laknat. Sesuatu yang bukan untuk Allah, maka dilaknat oleh Allah dan bisa membawa bencana ataupun musibah. Adapun dunia yang kita bawa untuk beribadah kepada Allah, maka itulah dunia yang terlepas dari laknat Allah. Sabda Rasulullah SAW: الدُّنْيَا مَلْعُونَةٌ، مَلْعُونٌ مَا فِيهَا “Dunia itu dilaknat, dan dilaknat pula apa yang ada padanya.” Baik itu manusia, hewan, maupun harta benda, semuanya masuk dalam kutukan Allah. Kecuali yang tidak dilaknat adalah orang yang berdzikir kepada Allah, orang yang berilmu agama, dan orang yang belajar ilmu agama. Mereka itulah yang terlepas daripada kutukan dan laknat tersebut. Dunia yang kita tempati ini, rumah yang kita tinggali, kendaraan yang kita miliki, semuanya dilaknat, kecuali apabila semua itu digunakan untuk ibadah kepada Allah. Penjelasan hadits Rasulullah SAW yang pertama tadi, apa yang dimaksud dengan dunia itu? Karena pengertian dunia bermacam-macam. Dunia adalah segala sesuatu sebelum kita mati. Apabila kita mati, maka kita berpindah ke akhirat. Adapun pengertian laknat ialah dijauhkan daripada rahmat Allah dan menjadi tercela. Kita memiliki kendaraan, membelinya dengan uang yang halal, namun apabila dipergunakan kepada selain Allah, maka tetap dilaknat oleh Allah. Sebab kendaraan ini bisa memperlambat hisab kita ketika di akhirat. Yang tidak masuk dalam laknat di dunia ini adalah beribadah kepada Allah, seperti shalat. Pakaian yang dipakai untuk shalat, maka pakaian itu terlepas daripada laknat Allah. Apa pun yang kita gunakan daripada dunia untuk Allah, maka terlepas daripada laknat Allah. Berbakti kepada kedua orang tua dan menyambung silaturrahim juga terlepas daripada laknat Allah. Sesuatu benda yang kita pakai untuk silaturrahim, maka benda itu terlepas daripada kutukan Allah. Harta yang digunakan untuk membina syiar Allah juga tidak masuk dalam laknat Allah. Inilah dunia yang digunakan untuk Allah, sehingga terlepas daripada laknat Allah. Ada orang yang bertani, berdagang, dan berkebun dengan niat untuk memberangkatkan orang tua naik haji serta membantu ibadah lainnya, maka hal itu tidak termasuk sesuatu yang dilaknat oleh Allah. Orang-orang yang memiliki ilmu agama lalu mengamalkan ilmunya, serta pelajar ilmu agama, mereka juga tidak termasuk orang yang dilaknat oleh Allah SWT. Hadits Nabi menjelaskan bahwa dalam sehari semalam kita bisa berkumpul dengan orang-orang shalih, melaksanakan shalat berjamaah, lalu mendapat rahmat Allah. Namun terkadang dalam sehari itu juga ada perbuatan yang termasuk dilaknat oleh Allah. Maksud laknat atau kutukan di sini ialah sesuatu yang menyusahkan kita di akhirat karena hisab daripada perbuatan tersebut. Walaupun perbuatannya tidak diharamkan, tetapi sebab kita mengerjakannya, maka hisab kita bertambah. Sebagus apa pun pakaian yang kita beli, apabila dipakai untuk shalat dan menuntut ilmu, maka pakaian itu terlepas daripada kutukan Allah. Allah tidak menyukai orang yang melampaui batas. Makan dengan niat agar kuat menuntut ilmu dan beribadah, maka itu tidak termasuk mal‘ūnah. Hadits seperti ini masyhur dan sering kita dengar. Yang sulit ialah mencocokkan hadits ini dengan diri kita sendiri. Apabila sesuatu itu bukan ibadah dan bukan pula wasilah ibadah, maka itulah dunia yang membuat kita susah di hadapan Allah, karena dunia tersebut termasuk mal‘ūnah. Kendaraan yang digunakan untuk menuntut ilmu dan silaturrahim termasuk kendaraan yang dirahmati Allah. Pakaian yang dipakai untuk ibadah kepada Allah juga termasuk pakaian yang dirahmati Allah. Uang yang kita miliki hendaknya diniatkan untuk: 1. Nafkah 2. Membantu orang susah Uang itu tergantung bagaimana kita mengelola dan menggunakannya. Apakah diniatkan untuk ibadah atau tidak. Apabila tidak diniatkan untuk ibadah, maka uang itu dilaknat oleh Allah. Tugas seorang muslim agar selamat daripada kutukan Allah: 1. Beribadah kepada Allah 2. Menjadikan dunia sebagai penghubung ibadah 3. Menuntut ilmu Ilmu yang dipelajari dan diajarkan, yang membuat kita terhindar daripada kutukan Allah, ialah ilmu tentang bagaimana shalat kita diterima. Ketika kita belajar ilmu tersebut, status kita adalah muta‘allim, dan saat itu kita terlepas daripada kutukan Allah. Imam Ibnu ‘Athaillah berkata: الْكَوْنُ كُلُّهُ ظُلْمَةٌ، وَإِنَّمَا أَنَارَهُ ظُهُورُ الْحَقِّ فِيهِ “Alam semesta itu semuanya gelap. Yang meneranginya hanyalah tampaknya Allah pada alam itu.” Dunia yang gelap dapat menjadi terang apabila kita beribadah kepada Allah. Demikian pula harta benda yang ada pada kita. Semuanya dilaknat oleh Allah, kecuali apabila harta itu digunakan untuk ibadah kepada Allah, maka harta tersebut akan dirahmati Allah. Barang siapa melihat alam semesta namun tidak dapat musyahadah kepada Allah dan tidak memiliki tujuan ibadah kepada Allah, maka ia terhalang daripada cahaya-cahaya kebaikan. Jadi, kita sudah mengetahui bahwa tugas kita di dunia adalah beribadah. Kita mencari harta dengan cara yang diperbolehkan oleh Allah, lalu setelah mendapatkannya digunakan untuk ibadah. Maka harta tersebut tidak akan mendatangkan laknat Allah. Rasulullah SAW bersabda dalam hadits shahih riwayat Imam Tirmidzi: > إِنَّمَا الدُّنْيَا لِأَرْبَعَةِ نَفَرٍ... “Sesungguhnya dunia itu untuk empat golongan manusia" 1. Seseorang yang diberi Allah harta dan ilmu. Ia bertakwa kepada Allah dengan hartanya. Harta tidak membuatnya angkuh dan tidak membuatnya bakhil. Bahkan harta itu menambah ketakwaannya kepada Allah, menyambung silaturrahim, dan ia mengetahui bahwa Allah memiliki hak dalam hartanya. Maka orang ini berada pada tempat yang paling afdhal. 2. Seseorang yang diberi Allah ilmu namun tidak memiliki harta. Niatnya benar. Ia berkata, “Seandainya aku memiliki harta, niscaya aku akan membantu orang lain.” Maka Nabi SAW bersabda bahwa pahalanya sama seperti orang yang pertama. 3. Orang yang memiliki harta namun tidak memiliki ilmu yang cukup. Hartanya banyak, tetapi tidak diberi Allah ilmu. Maka orang ini termasuk orang yang paling hina. Hartanya banyak, tetapi ilmunya tidak sebanding dengan hartanya. 4. Orang yang tidak memiliki ilmu dan tidak memiliki harta. Maka ini lebih hina lagi, sebagaimana sabda Nabi SAW. Doa yang diajarkan oleh Rasulullah Saw: اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, kehormatan diri, dan kecukupan.” Mohon maaf atas segala bentuk ketidaksempurnaan dalam merangkai kata dan menyampaikan isi dari catatan ini. Mudah-mudahan ada manfaatnya. ✍🏻@ibnathalib_

Komentar / Koreksi

Belum ada komentar atau koreksi.

Silakan login untuk menambahkan komentar.

Muhammad Khaidir
28 April 2026
Publik
*Catatan Pengajian Malam Rabu Nurul Muhibbin Balangan, Selas...
*Catatan Pengajian Malam Rabu Nurul Muhibbin Balangan, Selasa 28 April 2026* Ayahanda KH Muhammad Bakhiet Rasulullah ﷺ bersabda: Seorang mukmin, muslim, orang yang Islam, Islam dan iman keduanya merupakan sesuatu kesatuan yang tidak bisa terpisah. Orang yang beriman, yang dia itu bergaul dengan manusia, artinya hidup di masyarakat, dan dia sabar atas gangguan-gangguan mereka, lebih besar pahalanya, lebih afdhal tingkatannya di sisi Allah daripada orang yang beriman pula, yang dia tidak bergaul kepada manusia (menyendiri) dan dia tidak sanggup karena gangguan manusia. HR Ibnu Majah Hadits ini Rasulullah menjelaskan tentang dua orang yang beriman. 1. Orang beriman yang hidup di masyarakat. Seandainya hidup di masyarakat ini kita sabar dengan gangguan manusia, ini lebih baik daripada menyendiri. 2. Bermula orang yang bercampur di antara manusia, dan dia sabar atas sesuatu itu. Pengertian sabar di sini sangatlah luas, baik gangguan secara fisik ataupun yang bukan fisik, dan kita sabar menghadapi ini. Belum lagi kita harus sabar dalam menghadapi ajakannya yang membawa kepada maksiat. Ini sudah dijelaskan oleh Rasulullah 1.400 tahun lalu apa yang akan terjadi yang akan dihadapi umatnya. Orang yang bergaul di tengah-tengah manusia lalu dia sabar atas sesuatu-sesuatu kejahatan yang menimpanya, ujar Rasulullah, orang seperti itu lebih baik, lebih afdhal, lebih besar pahalanya daripada mukmin yang beriman dan menjauh dari manusia (uzlah) dan dia tidak sabar akan gangguan manusia itu. Kita harus sabar menghadapi gangguan-gangguan orang/tetangga kita. Agama tidak melarang kredit dari segi fiqih dalam kitab Fathul Mu’in, Bajuri, tapi kalau kita mengkaji kitab tasawwuf Ihya’, Mursyidul Amin menjelaskan bahwa di situ dicela, bahwa orang yang melakukan kredit itu adalah orang yang tidak sabaran, dan merasa panjang umur, dan ini sifat yang tidak baik. Uzlah yang terpuji itu dia fokus beribadah, dan putus hubungan dari makhluk Allah, dan ini tetap kalah kedudukannya dibanding kita hidup di kampung tapi kita sabar atas gangguan-gangguan orang yang ada di kampung kita. Lebih afdhal kita hidup di tengah masyarakat apapun profesi kita, tapi kita tetap sabar menghadapi masalah di masyarakat itu. Ada beberapa tugas bagi orang yang hidup di tengah masyarakat agar menjadi lebih baik dan lebih mulia daripada orang yang uzlah itu, di antaranya: 1. Belajar atau mengajar, dan keduanya tidak ada batasan umur ataupun titel. مِنَ الْمَهْدِ إِلَى اللَّحْدِ (Dari buaian sampai liang lahat) Semakin umur kita tua, seharusnya semakin rajin mengaji atau belajar, bukan malah makin tua makin malas. Hidup ini harus kita kelola, jangan sampai kita dikelola oleh orang-orang yang tidak baik. Kita “memasak” diri kita supaya menjadi “masakan” yang bisa kita nikmati di akhirat nanti. Kita hidup berada di tengah-tengah masyarakat, kewajiban kita adalah belajar dan mengajar, dan keduanya tidak ada batasan usia. Belajar itu tidak ada istilah cukup, kecuali kita mati. Kenapa sebabnya, karena belajar itu memerlukan satu hidayah agar kita bisa mengamalkan ilmu yang kita pelajari selama ini. Tidak mudah untuk mendapatkan taufik dan hidayah dari Allah untuk mengamalkan satu ilmu itu. Ada waktu yang kita sediakan sehingga kita bisa belajar. Kalau bisa dan harus bisa, profesi kita hidup itu adalah belajar atau pengajar, jangan sampai profesi kita itu hanya buruh atau pengusaha. Pilih di antara tiga, yaitu pengajar, belajar, atau mustami’ (pendengar agama). Ujar Rasulullah: كُنْ عَالِمًا أَوْ مُتَعَلِّمًا أَوْ مُسْتَمِعًا وَلَا تَكُنِ الرَّابِعَ فَتَهْلِكَ (Jadilah orang berilmu, atau orang yang belajar, atau orang yang mendengarkan. Jangan jadi yang keempat, maka engkau akan celaka) Orang di Tarim itu kalau mendekati waktu adzan, mereka menutup toko jualannya. Hidup itu bukan untuk bekerja, bukan untuk berdagang, tapi hidup itu untuk beribadah kepada Allah. Ini yang perlu kita contoh. Jadi apa yang tertanam dalam diri kita yang selama ini salah mesti kita benarkan, bahwa hidup kita ini bukan untuk selainnya, melainkan untuk belajar. Jadi pengajian itu tidak boleh meliburkan diri. Yang dipelajari itu banyak, berapa hukum tentang mata kita, apa-apa yang diharamkan lewat mata kita, apa-apa yang diwajibkan lewat mata kita, apa-apa yang dimakruhkan lewat mata, dan apa-apa yang dibolehkan lewat mata. Semua anggota tubuh kita hukumnya seperti ini. Belajar itu tidak ada habisnya. مِنَ الْمَهْدِ إِلَى اللَّحْدِ Kalau kita belajar sampai kita mati namun pembelajarannya belum selesai, maka ini dianggap Allah sudah selesai belajarnya, karena sesungguhnya Allah Maha Mengetahui. 2. Memberikan manfaat dan mengambil manfaat. Kalau kita hidup di masyarakat namun tidak bisa memberikan manfaat atau tidak bisa mengambil manfaat, maka lebih baik beruzlah. Contohnya seperti bermuamalah yang selamat dari yang dilarang oleh Allah (jual beli, sewa menyewa, menggadaikan, hutang piutang). Ini muamalah kita, karena kita hidup di masyarakat maka kita laksanakan demikian sesuai petunjuk agama, bagaimana muamalah yang salimah. Jangan sampai dalam muamalah itu ada perbuatan riba dan sebagainya. 3. Berakhlak mulia. Kita mesti berakhlak mulia, contohnya menyandang/sabar terhadap gangguan-gangguan itu tadi, sanggup dighibah, difitnah, dan sanggup tidak membalas. Jika kita sanggup demikian maka kita disuruh lebih baik hidup di masyarakat karena kita tahan menghadapi semua godaan dan sanggup tidak mengganggu serta menyakiti orang lain. 4. Berjinak-jinakan dengan tetangga dan masyarakat. Maksudnya seperti membuat acara, makan bersama, acara baca sholawatan, maulid Nabi. Ini bentuk orang yang hidup di masyarakat. Jangan sampai hidup di masyarakat itu kalau diundang ke suatu acara tidak mau hadir. 5. Mencapai pahala besar. Dengan kita hidup bermasyarakat ini kita bisa menggapai pahala yang besar seperti menghadiri sembahyang berjamaah, sembahyang Jumat. Ini keunggulan kita bermasyarakat daripada beruzlah. 6. Tawadhu. Tidak merasa bahwa dirinya lebih bersih, tidak merasa bahwa dirinya lebih mulia, tidak merasa bahwa dirinya lebih baik dari orang lain. Perkara mulianya seseorang ini diukur dengan ketakwaan, dan ketakwaan ini hanya Allah yang mengetahui. Tawadhu itu merasa dirinya tidak lebih mulia dari orang lain walaupun dirinya punya banyak kelebihan. Kalau kita hidup di masyarakat itu lebih baik daripada uzlah dengan syarat kita tidak merasa lebih mulia dari orang lain. Emosi itu manusiawi, yang dilarang itu emosi namun melampaui batas. Marah itu pun ada aturannya. Sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Ibnu Athaillah As-Sakandari dalam kitab Al-Hikam, hikmah ke-12: مَا نَفَعَ الْقَلْبَ مِثْلُ عُزْلَةٍ يَدْخُلُ بِهَا مَيْدَانَ فِكْرَةٍ “Tidak ada sesuatu yang lebih membawa manfaat bagi hati sebagaimana uzlah, yang dengan itu seseorang masuk ke medan tafakkur.” Mohon maaf atas segala bentuk ketidaksempurnaan dalam merangkai kata dan menyampaikan isi dari catatan ini. Mudah-mudahan ada manfaatnya. ✍🏻@ibnathalib_

Komentar / Koreksi

Belum ada komentar atau koreksi.

Silakan login untuk menambahkan komentar.

Muhammad Khaidir
21 April 2026
Publik
*Catatan Pengajian Malam Rabu Nurul Muhibbin Balangan, Selas...
*Catatan Pengajian Malam Rabu Nurul Muhibbin Balangan, Selasa 21 April 2026* Disebutkan dalam hadits shahih, bahwa seorang laki-laki berkata kepada Rasulullah SAW. Ujar laki-laki itu, "Wahai Rasulullah, seseorang beramal baik sembahyang, puasa, maupun sedekah. Lalu amal yang dia lakukan itu dia sembunyikan dan tidak dia ceritakan. Namun ketika diketahui orang lain, dia merasa senang. Maka bagaimana itu wahai Rasulullah?" Maka Rasulullah menjawab: "Ini adalah suatu kelebihan." 1. Pahala beramal secara sembunyi-sembunyi. 2. Pahala beramal ketika diketahui orang lain secara terbuka, sehingga pahala yang asalnya tersembunyi menjadi sempurna, lalu mendapat tambahan pahala karena ibadah itu diketahui orang banyak Orang yang beramal hendaknya menyembunyikan amal, kecuali amalan- amalan yang memang diperintahkan untuk ditampakkan. Apa saja amalan yang mesti terbuka? Yaitu menghadiri sembahyang Jumat, sembahyang berjamaah, menunaikan zakat, dan naik haji. Namun ada ibadah-ibadah lain yang dituntut untuk disembunyikan, seperti membaca Al-Qur'an, tahajud, berdzikir, dan lainnya. Semua itu dituntut untuk disembunyikan. Jika tidak disembunyikan, maka akan berbahaya bagi dirinya sendiri Jika orang lain yang menceritakan tentang ibadah kita, maka tidak mengapa. Tetapi jika kita sendiri yang menceritakan ibadah kita, maka pahalanya bisa gugur, bahkan bisa menjadi dosa. Ibadah-ibadah sunnah dianjurkan untuk disembunyikan sebaik mungkin. Jangan menampakkan amalan yang tidak patut untuk ditampakkan Sembunyikan amal itu, karena Allah yang akan membalas dan mengganjar ibadah kita. Orang yang beramal dengan menyembunyikan amalnya akan mendapatkan pahala beramal secara rahasia. Apabila ibadah diketahui oleh orang lain bukan karena kita yang memberitahukan, lalu kita merasa gembira karena mendapatkan taufik dan hidayah dari Allah, atau karena orang lain ikut terdorong beramal, maka kita mendapatkan pahala. Namun berbeda jika merasa senang karena ingin dipuji oleh manusia, maka hal itu justru menggugurkan amal. Diriwayatkan dari Rasulullah SAW bahwa menjaga keberlangsungan amal lebih sulit daripada melakukan amal itu sendiri. Terkadang kita mampu beramal, tetapi amal itu bisa hancur. Beramal itu sulit, namun lebih sulit lag memelihara amal. Seorang laki-laki beramal, lalu ditulislah baginya amal shalih yang dikerjakan secara rahasia, dan dilipatgandakan pahalanya menjadi 7O kali lipat karena dia mampu menjaga amalnya. Namun karena setan cemburu, lalu menggoda, akhirnya laki-laki itu menceritakan amalnya kepada orang lain. Maka pahalanųa menurun, dan pahala yang berlipat ganda itu dihapus, tersisa hanya 10 pahala saja. Sembunyikan keberadaan amal, karena bisa menggugurkan pahala dan mendatangkan dosa. Apa pun amal kebaikan kita, maka sembunyikanlah Simpan amal itu dan jangan ditampakkan kepada manusia. Ibadah kita, baik hablum minallah maupun hablum minannas, semuanya untuk Allah, bukan untuk pamer. Maka simpanlah amal itu, jangan ditampakkan kepada manusia. Amal yang tersembunyi lebih selamat, lebih sempurna, dan balasannya bisa menjadi 70 kali lipat Sedekah yang tersembunyi dapat memadamkan kemurkaan Allah. Jika ada perbuatan yang membuat Allah murka kepada kita, maka lakukanlah sedekah yang tidak diketahui orang lain. Dengan sedekah itu, kemurkaan Allah bisa dipadamkan. Sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Ahmad Ibnu Athaillah As- Sakandari dalam Hikmah ke-11: "Kuburlah keberadaan amalmu di dalam bumi yang tersembunyi, maka segala yang tumbuh namun tidak ditanam (dengan baik) tidak akan sempurna buahnya. Orang kaya yang menceritakan bahwa dia bersedekah kepada orang kaya lain yang kikir, maka hal itu tidak mengapa. Walaupun sedikit amal kita, tetapi jika diterima oleh Allah, itulah yang akan menyelamatkan kita. Sebaliknya, sebanyak apa pun amal kita, jika tidak diterima, maka hanya menjadi debu yang akan berbuah penyesalan dan penderitaan di hari kiamat. @ibnathalib

Komentar / Koreksi

Belum ada komentar atau koreksi.

Silakan login untuk menambahkan komentar.

Muhammad Khaidir
14 April 2026
Publik
*Catatan Pengajian Malam Rabu Nurul Muhibbin Balangan, Selas...
*Catatan Pengajian Malam Rabu Nurul Muhibbin Balangan, Selasa 14 April 2026* Rasulullah SAW bersabda: "Sesunggguhnya hamba (yang dimaksud dengan hamba di sini adalah orang-orang yang beriman, orang-orang yang percaya islam) sungguh dia beramal amalan-amalan yang baik, (seorang hamba beramal amalan yang wajib-wajib, yang sunat-sunat) maka malaikat itu mencatat apa yang dia dapat, apa yang dia dengar, dari seorang hamba dicatat, sedikit pun tidak ada yang kurang dan tidak ada yang lebih Sembahyang subuh dua rakaat kah labih kah bezakat beamal apa kah dicatat oleh malaikat Malaikat itu tugasnya ada yang membawa naik amal kita sahari sekali, seminggu sekali, setahun sekali Dan sebelum naik amal kita itu diuji, diteliti Dia serahkan kepada Allah SWT ini amalan si anu ini amalan si anu Allah berfirman: "Periksa, ada lembaran-lembaran, ini buang jar tuhan, Dia tidak menghendaki dengan amalan-amalan yang disuruh itu karena amalan itu tidak karena Allah Para ulama mengajarkan kalau kita membaca hadits-hadits seperti ini bukan sekedar mendengar tapi diperiksa pada diri sendiri ada kah disitu yang pacang dibuang Allah SWT, jadi periksai sebelum Allah yang memeriksanya Bersedekah ini nah kita periksai kalo kada bujur, kenapa? Di tengah orang banyak besedakah handak minta puji, parai dah ini jangan berharap pahala Amalan apa pun yang tidak karna Allah akan dibuang Kalau kita kada memeriksa itu kita kada tahu, memeriksa amal itu ibadah kalo pang sia-sia_kada, memeriksa ini ibadah, bepahala. Kayapa sembahyang subuhku, kayapa sembahyang zuhurku apakah bujur-bujur karna Allah, bila ada karna yang lain ditolak oleh Allah SWT Sahari kita periksai, ini gawian kita kada kawa kada teliti, jangan malaikat yang meneliti, memeriksa karna bila malaikat yang memeriksanya baku kada pacang mengurangi melebihi Sebelum malaikat yang memeriksa amal kita ini nah, sebelum Allah yang memeriksa bila kada bujur dibuang, lebih baik kita dulu yang memeriksa Kita memeriksai ini untungnya satu kita dapat pahala, dua kita periksa apabila ada salah kita tobat jadi pahala Kita mehutangi orang dicatat, diperiksai catatannya tapi kenapa kita kada memeriksai amal ibadah kita Tuha anum, guru kah, ustadz kah kadada jaminan bersih, perlu memeriksai jua Jadi Allah taala tegas, buang yang ini nah buang lembaran ini, padahal sembahyangnya bagus puasanya bagus tapi karna bukan karna Allah Dalam setiap kitab dalam setiap bab dalam kitab kalau tobat pasti lawan ikhlas Tobat + ikhlas, kalau tobat tanpa ikhlas papalalu Allah tegas, buang kertas ini karna bukan karna aku Kemudian Allah memanggil malaikat, ujar Tuhan tulis, ikam catatan banyak yang taliung, malaikat hanya menulis apa yang terlihatnya, bila kadada malihat kada ditulisnya, sedangkan Allah Maha Melihat Ujar malaikat inya kada ada melakukan ini, kenapa maka ditulis? Ujar Tuhan bujur ai inya kada melakukan tapi dia meniatkan Bujur ai inya kadada besedakah tapi inya meniatkan Kita disuruh meniatkan sebanyak-banyaknya dengan sebaik-baiknya Asal jangan bedusta haja, sekali bedusta kada dipercaya Tuhan lagi HR. Imam Abu Daut Kualitas hadist ini adalah hasan Di dalam hadits ini mengajarkan kepada kita : # Satu setiap kali kita beribadah kepada Allah kita pastikan dulu "Lillahi taala", bila kada lilahi taala pang? setan manang, apabila ada gelitik di hati kita "aku rasa kada ikhlas" barti bila ikam kada kawa mangarasi "Lilllahi taala" barti ikam kalah lawan setan, karasi haja kesampingkan bisikan setan karasi haja "Lillahi taala" # Yang kedua tanamkan niat-niat yang baik Allah taala berfirman: "Barang siapa yang menghendaki dengan satu ibadah menghendaki dunia dengan ibadahnya, (bersediakah ingin dipuji orang/menghendaki dipuji orang), ...* Yang Allah kada katuju ibadah kepada Allah diniatkan untuk mendapatkan dunia Kalau kita beribadah tujuan kita adalah dunia maka disegerakan dunia tapi sesuai kehendak kami, bisa separu, bisa orang kada seberapa memuji. Ada jua yang tidak dikehendaki, kada dipuji orang. Besedakah supaya dipuji orang tapi kadada yang memujinya Di akhirat dia masuk ke neraka jahanam dalam keadaan tercela Ini ayat peringatan bagi kita bila beribadah ... Beribadah untuk banyak duit, dosa pasti ada karna dia gunakan ibadah untuk banyak duit Ini firman Allah mengingatkan kepada kita agar kita beribadah merasa ikhlas Beramal, sembahyang puasa naik haja umrah hati-hati periksa bujur-bujur bulik membawa pahala kah membawa dosa kah Zakat, atau amal-amal yang lain "lillahi taala" Makanya ulama-ulama kitab hati-hati dengan niat ini Jika tidak "lillah" baik lillahi taala atau lillahi taala lighairi (karna Allah iya jua karna yang lain iya jua) dia berdosa dan dia masuk neraka jahanam Ini Al-Quran menyatakan demikian Suatu anugerah yang besar diberi kesempatan, diberi pengetahuan, diberi kesempatan ingat seperti ini, Pengajian yang kita baca ini mungkin sudah puluhan kali diulang Dalam kitab-kitab selalu ada ini, berarti ini penting Imam nawawi, imam ahmad dalam hikam ibnu atha illah amal itu kaya patung, supaya kita ikhlas, kita kada ada ikhlas itu kaya patung, kada ada nilainya amal kita kaya patung Hadist Rasulullah sering kita dengar untuk mengingatkan kita sebuah hadits yang shaheh ujar Nabi kita yang namanya syirik itu lebih sangar dari pada jalannya semut yang perlahan Ria itu lebih sunyi dari jalan semut yang perlahan Nabi bersumpah "Demi Tuhan yang diriku dalam kekuasaanNya yang namanya sirik itu lebih sangar dari jalannya semut yang perlahan Mau kah kam kupadahkan jar Nabi bila kam hakun membaca ini اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ Bila meamalkan ini maka yang namanya riya itu Allah kikis dari hati kita Lawan siapa Nabi kita bepandir? Lawan Abu Bakr As-Sidik Suksesnya suatu amalan tergantung ketebalan hati kita, ada yang 5 kali haja berhasil, ada yang bertahun-tahun Kita 10 tahun belum tentu tembus Amalan yang disampaikan Nabi semua terjadi Ujar Nabi baca ini datangan duit Kita amalakan kada datang duit, belum lagi, hati kita berkarat Kita amalkan amaliah yang diajarkan Nabi pasti terjadi hanya saja sabar, ada yang 10 tahun ada yang lebih tapi pasti terjadi, laksanakan aja pasti terjadi Atau diganti Allah di surga Amalan yang disampaikan Nabi apalagi hadist yang shaheh laksanakan haja pasti terjadi asal sabar Kadada ruginya meamalkan yang jar Nabi, pasti kabul, atau bisa jua kaina, bisa juga digantikan Allah dengan surga natinya اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ Juga perlu membaca Rabbighfirli tub alaya wa anta tawaburrahim x100 Ya Allah ampuni Ulun terima tobat Ulun Baca sekali duduk asa kalawasan dikridit kada papa 20 20 kah habis sembahyang Mudahan Allah memberikan kita Taufik untuk mengamalkan ini 🤲 *** Majelis Ta'lim Nurul Muhibbien - Balangan Malam Rabu, 14 April 2026 (Sugian Ilmi - Panglima Balai)

Komentar / Koreksi

Belum ada komentar atau koreksi.

Silakan login untuk menambahkan komentar.

Muhammad Khaidir
27 Januari 2026
Publik
Catatan pengajian malam Rabu, Majelis dzikir dan ilmu Nurul...
Catatan pengajian malam Rabu, Majelis dzikir dan ilmu Nurul Muhibbin Balangan, Selasa 27 Januari 2026. KH Muhammad Bakhiet AM Rasulullah ﷺ mengajarkan kepada kita sebuah doa yang sangat agung, yang menunjukkan betapa pentingnya urusan hati dalam kehidupan seorang hamba. Doa tersebut adalah: اللَّهُمَّ يَا مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ “Ya Allah, Wahai Dzat Yang Membolak-balikkan hati, palingkanlah hati kami agar tetap di atas ketaatan kepada-Mu.” Doa ini sering dibaca oleh Rasulullah ﷺ. Hal ini menunjukkan bahwa permohonan kepada Allah agar hati tetap lurus dan taat adalah perkara yang sangat penting. Hati manusia mudah sekali terbolak-balik. Hari ini semangat beribadah, besok lalai. Hari ini ingat Allah, besok sibuk dengan selain Allah. Maka Rasulullah ﷺ mengajarkan doa ini agar hati kita selalu tertuju kepada Allah dan kepada ketaatan. Dalam sebuah hadis shahih, Rasulullah ﷺ bersabda: إِنَّ قُلُوبَ بَنِي آدَمَ كُلَّهَا بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمَنِ، كَقَلْبٍ وَاحِدٍ، يُصَرِّفُهُ حَيْثُ يَشَاءُ ثُمَّ قَالَ: اللَّهُمَّ مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ، صَرِّفْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ (HR. Muslim no. 2654) “Sesungguhnya hati anak-anak Adam semuanya berada di antara dua jari dari jari-jari Ar-Rahman, seperti satu hati. Allah membolak-balikkan sesuai kehendak-Nya.” Kemudian Rasulullah ﷺ berdoa: “Ya Allah, Wahai Yang Membolak-balikkan hati, palingkanlah hati kami agar tetap di atas ketaatan kepada-Mu.” Doa ini boleh dibaca di mana saja, termasuk ketika sujud, asalkan kita memahami maknanya dan menghadapkannya dalam hati. Hati Adalah Pusat Kebaikan dan Keburukan Rasulullah ﷺ juga bersabda: أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ (HR. Bukhari no. 52, Muslim no. 1599) “Ketahuilah, sesungguhnya di dalam jasad ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh jasad; dan jika ia rusak, maka rusaklah seluruh jasad. Ketahuilah, itulah hati.” Hati adalah titik sentral. Semua kehendak berasal dari hati. Ingin berbuat baik, itu dari hati. Ingin berbuat jahat, itu juga dari hati. Maka pekerjaan terbesar seorang mukmin adalah mengurus hatinya. Para salikin, orang-orang yang menempuh jalan menuju Allah, menjadikan urusan hati sebagai pekerjaan harian mereka. Hati mesti selalu diurus, karena hati adalah tempat berkehendak. Kita shalat lima waktu, menuntut ilmu, beramal shalih. Tetapi kalau kita tidak punya perhatian khusus terhadap hati kita, maka kita akan mudah lalai. Mengurus hati adalah bagian dari ibadah. Allah berfirman: يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ (QS. Asy-Syu'ara': 88–89) “Pada hari itu tidak berguna harta dan anak-anak, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat.” Di hari kiamat nanti, harta yang kita sedekahkan, harta yang kita wariskan, semuanya tidak berguna kecuali bagi orang yang datang menghadap Allah dengan membawa hati yang terurus, hati yang bersih, hati yang selamat. Tugas kita adalah memeriksa hati kita. Kalau dalam empat rakaat shalat kita ada satu rakaat saja yang benar-benar fokus menghadap Allah tanpa memikirkan macam-macam, itu sudah sangat luar biasa. Menjaga hati itu lebih susah daripada menjaga seribu kambing. Maka Nabi ﷺ mengajarkan doa: اللَّهُمَّ يَا مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ Kita juga diajarkan doa: رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ (QS. Al-Baqarah: 201) “Wahai Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.” Makna hasanah fid-dunya bukan sekadar banyak harta, banyak uang, atau tinggi jabatan. Tetapi: Diberi kemudahan beribadah. Diberi kesehatan. Diberi kecukupan. Diberi taufik untuk melakukan kebaikan. Banyak orang tahu kebaikan, tetapi tidak diberi taufik oleh Allah untuk mengamalkannya. Rasulullah ﷺ menceritakan tentang Abdurrahman bin Auf رضي الله عنه: دَخَلْتُ الْجَنَّةَ فَرَأَيْتُ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ عَوْفٍ يَحْبُو حَبْوًا فَقُلْتُ: لِمَ ذَاكَ؟ قِيلَ: بِكَثْرَةِ مَالِهِ (HR. At-Tirmidzi no. 3748 – Hasan) “Aku masuk surga, lalu aku melihat Abdurrahman bin Auf berjalan merangkak. Aku bertanya: ‘Mengapa demikian?’ Dijawab: ‘Karena banyaknya hartanya.’” Beliau tetap masuk surga, tetapi tertahan karena lamanya hisab harta, meskipun hartanya halal. Tujuan Kita Mengurus Hati Yang kita inginkan adalah: Dimudahkan beribadah kepada Allah. Dihindarkan dari bala dan musibah yang mengganggu ibadah. Wafat dalam keadaan husnul khatimah. Masuk surga. Jangan sampai hati ini berkehendak kepada sesuatu yang mempersulit masuk surga. Hati adalah tempat tumbuhnya hal-hal terpuji. Ikhlas berasal dari hati. Khusyuk berasal dari hati. Takut kepada Allah berasal dari hati. Kejujuran (sidq) adalah ahwal yang diridhai Allah. والله أعلم بالصواب

Komentar / Koreksi

Belum ada komentar atau koreksi.

Silakan login untuk menambahkan komentar.

Muhammad Khaidir
20 Januari 2026
Publik
*Catatan Pengajian Malam Arba Nurul Muhibbin Balangan, 20 Ja...
*Catatan Pengajian Malam Arba Nurul Muhibbin Balangan, 20 Januari 2026 M* PENGAJIAN HADITS YANG BERHUBUNGAN DENGAN KAJIAN KITAB AL HIKAM OLEH AL MUKARRAM AL FADHIL AL 'ARIF BILLAH AYAHANDA TUAN GURU KH. MUHAMMAD BAKHIET IBNU SYEIKH KH. AHMAD MUGHNIE NAGARA (AYAH NAGARA) ✨📝 Para Muhibbin Rahimakumullah ... Yang kita hormati, yang kita cintai, kita muliakan Para Habaib, Para Syaraif, Dzurriyatun Nabi Muhammad SAW. Yang kita hormati dan yang kita muliakan para alim ulama, tokoh agama, para muhibbin, hadirin, hadirat rahimakumullah ... Pertama-tama dan utama marilah kita senantiasa panjatkan puji syukur kepada Allah SWT karena telah memberi kita berbagai nikmat yang tak terhitung  tak terkira terutama nikmat anugerah taufiq, hidayah dan inayah-Nya sehingga kita dapat berkumpul di sini, sebagaimana kita berkumpul di majelis yang penuh berkah dan rahmat ini, dan kita senantiasa berdo'a mudah-mudahan Allah SWT kumpulkan lagi nanti di surga-Nya. Aamiin ... Aamiin ... Aamiin ... Yaa Rabbal Aalamiin .... Kemudian shalawat dan salam kita selalu haturkan selalu tercurah kepada junjungan kita Baginda Nabi Muhammad SAW, dan kepada seluruh keluarga, para sahabat, tabi'in, tabi'it tabi'in, dan pengikut beliau hingga akhir zaman. ✨📝 Para Muhibbin Rahimakumullah ... Berada di awal bulan sya'ban, salah satu bulan yang di hormati. Satu bulan yang dinantikan orang meniti di jalan Allah SWT. Rasulullah SAW banyak bertaqarrub di bulan ini. Untuk menambah banyak ibadah sebagai persiapan menghadapi bulan Ramadhan. Kitapun juga demikian banyak shalawat dan dzikrullah daripada bulan biasa. Ini pertanda kita memuliakan bulan sya'ban. Bila kegiatan yang mengarah kepada maksiat, maka jangan dikerjakan segera tinggalkan, namun jika perbuatan ke arah ketaatan lazimi dan istiqamahi itu. ✨📝 Para Muhibbin Rahimakumullah ... Dari Abi Sa'ad bin Abi Waqash Rasulullah SAW bersabda : :عن النبي ﷺ قال أبو بكر في الجنة، وعمر في الجنة، وعثمان في الجنة، وعلي في الجنة، وطلحة في الجنة، والزبير في الجنة، وعبد الرحمن بن عوف في الجنة، وسعد بن أبي وقاص في الجنة، وسعيد بن زيد في الجنة وأبو عبيدة بن الجراح في الجنة. Dari Sa'ad bin Abi Waqash, (beliau adalah diantara 10 sahabat yang dikabarkan Nabi sebagai ahli surga). Bila Nabi mengatakan orang ini hali surga maka kita pun juga mengatakan demikian. Dari Nabi ﷺ, beliau mengatakan : Abu Bakar di surga, Umar di surga, Utsman di surga, Ali di surga, Thalhah di surga, Az-Zubair di surga, 'Abdur-Rahman bin 'Auf di surga, Sa'ad bin Abī Waqash di surga, Sa'id bin Zaid di surga, Abu Ubaidah bin al-Jarrah di surga. 10 sahabat yang satu majelis dalam surga. Sahabat lain juga disebut dalam hadits lain. الحسن والحسن سيدا شباب أهل الجنة "Hasan dan Husein adalah dua pemimpin para pemuda penghuni surga." Dalam kesempatan lain Rasulullah SAW bersabda : Pemimpin perempuan di surga nanti ada empat yaitu Maryam binti Imran, Fatimah binti Muhammad, Khadijah binti Khuwailid, dan Asiyah binti Muzahim (istri Fir'aun). ✨📝 Para Muhibbin Rahimakumullah ... Orang yang tidak disebut Nabi tidak ahli surga, maka tidak boleh kita mengatakan seseorang itu ahli surga walaupun dia ahli ibadah. Urusan akhirat ini urusan Nabi, bukan urusan ulama. Abu Bakar Ash Shiddiq juga tidak bisa bicara urusan akhirat. Tokoh siapa pun tidak bisa bicara sebagai ahli surga, misal Imam Syazilli ahli surga. Maka pengikut beliau mengatakan Imam Syadzilli adalah ahli surga. Jika tidak ada Nabi mengatakan, maka tidak dapat dipastikan beliau ahli surga. Jika dalam dunia ini tidak kenal dengan ahli surga nanti sulit di akhirat. Jadi kita harus sering-sering membaca kisah para sahabat calon penghuni surga. Jika kita mempelajari sejarah ahli surga ini sangat bermanfaat, bagaimana Sayyidina Hasan, Sayyidina Husein atau Sa'ad bin Abi Waqas. Dengan sering membaca dan mempelajari hal-hal tersebut, kita diharapkan dapat meniru akhlak mereka dan menjalin ikatan (mengenal) dengan orang-orang shaleh di dunia, agar bisa berkumpul bersama di akhirat.  Sabda Rasulullah SAW : "Seseorang itu akan beserta dengan orang-orang yang dia cintai". Tapi hati-hati dalam menempatkan cinta dalam dunia ini. Jika tidak menguntungkan untuk akhirat maka tinggalkan saja. Tapi jika ada manfaatnya untuk akhirat silakan cintai. ✨📝 Para Muhibbin Rahimakumullah ... Lokasi makam 10 sahabat ahli surga : Abu Bakar Ash-Shiddiq RA,dimakamkan di dalam Masjid Nabawi, Madinah, di samping makam Rasulullah SAW. Umar bin Khattab RA, dimakamkan di dalam Masjid Nabawi, Madinah, di samping makam Abu Bakar Ash-Shiddiq. Utsman bin Affan RA, dimakamkan di Pemakaman Jannatul Baqi', Madinah. Ali bin Abi Thalib RA, dimakamkan di Haram Imam Ali, Najaf, Irak. Thalhah bin Ubaidillah RA, dimakamkan di Pemakaman Jannatul Baqi', Madinah. Az-Zubair bin Al-Awwam RA, dimakamkan di Basra, Irak (menurut sejarah, beliau wafat dalam Pertempuran Jamal). Abdurrahman bin 'Auf RA, dimakamkan di Pemakaman Jannatul Baqi', Madinah. Sa'ad bin Abi Waqqash RA, dimakamkan di Pemakaman Jannatul Baqi', Madinah. Ada bekas jejak dakwah beliau, yang sahih dipakaiepara ulama adalah di Medinah. Sa'id bin Zaid RA, dimakamkan di Pemakaman Jannatul Baqi', Madinah. Said bin Zaid, ini lebih dahulu masuk Islam daripada Umar bin Khattab. Abu Ubaidah bin Al-Jarrah RA, dimakamkan di Lembah Yordania. Abu Bakr Ali dan dikuburkan di mednknah. Sayyid Ali dikubur kan di Irak. Jika mau ziarah, maka ziarah lah kepada orang yang  sudah jelas dikatakan Nabi ahli surga. ✨📝 Para Muhibbin Rahimakumullah ... Saad bin Abi Waqash bertanya kepada Rasulullah SAW : Siapa manusia yang sangat bersengatan dengan bala, kata Nabi adalah para Nabi. Yang paling berat menerima bala adalah para Nabi. Jadi siapa yang paling dekat dengan Nabi maka dia akan banyak dapat bala. Dibalakan seseorang itu yaitu makin kuat dengan agama maka makin banyak dapat bala. Jika kuat agamanya atau keras agamanya maka kuat pula bala yang akan di sandangnya. Tapi jika agamanya tipis maka sedikit pula bala yang akan dipikulnya. Jika seseorang dapat bala maka jika dia tetap menjaga agama Allah maka Allah akan angkat derajatnya. ✨📝 Para Muhibbin Rahimakumullah ... Jadi bala itu tergantung kedekatan dengan Allah SWT, makin kuat memegang agama Allah maka akan sering bersengatan (bersentuhan) dengan bala. Yang dimasukkan dengan bala disini adalah : 📝 1). Seperti faqir, Faqir itu adalah orang yang sangat susah, kebutuhan tidak dapat dicukupi dengan hasil pekerjaan yang didapatkan. 📝 2). Seperti sakit, Tidak faqir tapi sakit. 📝 3). Gangguan manusia, Seperti di ghibah atau di cela atau difitnah. ✨📝 Para Muhibbin Rahimakumullah ... Setiap bala (hidup susah) jauh dari pada cukup atau penyakit ada dibadan atau sering diganggu orang lain, tapi jika semua bala itu membuat kita ingat daripada Allah SWT itu lebih baik daripada nikmat yang membuat dia lalai daripada mengingat Allah SWT. Tiap-tiap bala yang membuat kenal dengan Allah SWT itu lebih baik daripada dapat nikmat tapi jahil dengan Allah SWT. Yang paling banyak menerima yang demikian (paling banyak menerima bala) itu adalah para Nabi, itulah keadaan orang-orang calon  penghuni surga. Para Nabi dan Aulia Allah SWT tidak sunyi daripada tiga hal tersebut (faqir, sakit, gangguan). Mesti kita lihat pada diri kita. Jika pendapatan cukup, badan tidak sakit (sehat) dan di sukai banyak orang maka ini hati-hati. Tapi jika sering faqir, atau badan sakit atau selalu dapat ganguan (atau salah satu diantara tiga tersebut maka ini jalan Allah SWT untuk memperkenalkan diri-Nya. Jadi perkara yang demikian itu menjadi alamat dalam kehidupan sehari-hari. ✨📝 Para Muhibbin Rahimakumullah ... Bala yang membuat engkau dekat dengan Allah SWT, membuat engkau bisa dzikir, membuat engkau shalawat dan membuat engkau tahajud itu lebih baik daripada nikmat yang membuat engkau lalai daripada Allah SWT. ✨📝 Al Imam Tajuddin Ibnu Ahmad Atha'illah As Sakandari mengatakan : إِذَا فَتَحَ لَـكَ وِجْهَةً مِنَ التَّعَرُّفِ فَلاَ تُبــَالِ مَعَهَا أِنْ قَلَّ عَمَلُكَ فَإِنَّـهُ مَا فَـتَـحَهَا لَكَ إِلاَّ وَهُوَ يُرِ يْدُ أَنْ يَـتَـعَرَّفَ إِلَيكَ. أَلَمْ تَـعْلَمْ أَنَّ الـتَّــعَرُّفَ هُوَ مُوْرِدُهُ عَلَيْكَ، وَاْلأَعْمَالُ أَنْتَ مُــهْدِ يْــهَا إِلَـيْهِ، وَأَيــْنَ مَا تُــهْدِ يْهِ إِلَـيْهِ مِمَّا هُـوَ مُوْرِدُهُ عَلَـيْكَ "Jika Allah SWT membukakan pintu ma'rifat bagimu, jangan hiraukan mengapa itu terjadi sementara amalmu sangat sedikit. Allah SWT membukakannya bagimu hanyalah karena Dia ingin memperkenalkan diri kepadamu. Tidaklah engkau mengerti bahwa ma'rifat iru adalah anugerah-Nya kepadamu, sedangkan amal adalah pemberianmu ? Maka betapa besar perbedaan antara persembahanmu dengan pemberian-Nya. Kita dapat bala lalu kita sadar bayak lalai daripada Allah SWT. Kesadaran yang seperti ini nilainya sangat tinggi di sisi Allah SWT. Jadi tidak usah khawatir jika kita sedikit beramal, ini Allah SWT yang menghendaki dengan kita. Ini Allah SWT yang melamar. Bala yang membuat engkau kenal kepada Allah SWT, bala yang membuat engkau bisa taat kepada Allah itu jauh lebih baik daripada nikmat-nikmat yang selama ini membuat lalai kepada Allah SWT. Ini lebih disukai oleh Allah SWT. Intinya adakah kesadaran kita kepada Allah SWT, tapi jika tidak menumbuhkan sesuatu maka hati-hatilah dengan hal demikian. Ketika kita sakit, maka kita sangat berharap kepada Allah SWT, berharap untuk disembuhkan. Walau kita banyak punya harta tapi harta tidak berguna bagi kita Jika kita dalam sakit, Allah SWT ingin mengenalkan diri kepada kita, ingin berta'arruf kepada kita. ✨📝 Para Muhibbin Rahimakumullah ... Jika Allah SWT menghendaki kebaikan kepada kita maka Allah SWT akan perkenalkan kepada kita melalui bala-bala atau banyak masalah, maka dengan ini kita merasa tiada memiliki kemampuan apa-apa, hanyalah Allah SWT sangat berkuasa. Kita sangat berhajat kepada Allah SWT. Tanpa kasih sayang Allah SWT tiada ada artinya. Maka dengan demikian nilainya lebih besarnya dari pada ibadah. Mudah-mudahan Allah SWT memberi kita pemahaman, bahwa apa-apa yang kita hadapi dan jalani ini semuanya adalah ta'aruf daripada Allah SWT, Allah SWT berikan nikmat kepada kita dan ini Allah SWT ingin mengenalkan diri-Nya kepada kita, intinya kita selalu ingin dekat dengan Allah SWT. Ini semua adalah ta'aruf Allah SWT kepada kita. Kita selalu ingin dekat dengan Allah SWT, kita menunjukkan keberhajatan kepeda Allah SWT.

Komentar / Koreksi

Belum ada komentar atau koreksi.

Silakan login untuk menambahkan komentar.

Muhammad Khaidir
13 Januari 2026
Publik
Catatan pengajian malam Rabu, Majelis dzikir dan ilmu Nurul...
Catatan pengajian malam Rabu, Majelis dzikir dan ilmu Nurul Muhibbin Balangan, Selasa 13 Januari 2026. KH Muhammad Bakhiet AM Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadis riwayat Imam Bukhari dan Muslim: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ، وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ Artinya: “Barang siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung silaturrahim.” Kata أَحَبَّ (ahabba) lebih kuat maknanya daripada أَرَادَ (arada). Ahabba berarti mengingini sampai kepada mencintai. Siapa yang mencintai dan mengingini dibukakan pintu rezekinya, apa yang diingini ada jalannya (inilah maksud dari lancarnya rezeki), serta dipanjangkan umurnya, maka hendaklah dia menyambung keluarganya. Siapa yang ingin rezekinya tidak macet dan ingin umur panjang, maka amalkan silaturrahim. Masalah silaturrahim ini pembahasannya panjang. Silaturrahim hukumnya diwajibkan oleh Allah. Bagaimana pun ibadah seseorang, tetapi jika tidak melaksanakan silaturrahim, maka gugur semua amalnya. Orang alim yang tidak melakukan silaturrahim, maka dia akan dimasukkan oleh Allah ke dalam golongan orang-orang yang disiksa oleh Allah. Tartib (Tingkatan) Silaturrahim Apabila ingin menyambung silaturrahim, maka ada beberapa tartib. Silaturrahim ini adalah hal yang diwajibkan oleh Allah, dan di antaranya beberapa tartib silaturrahim adalah: 1. Hubungan anak dengan ibu bapaknya Ini adalah hukum yang paling tinggi. Ibu dan bapak harus berbuat baik kepada anak, dan sebaliknya anak pun harus berbuat baik kepada kedua ibu bapaknya. 2. Orang yang haram dinikahi oleh kita Seperti saudara atau saudari kita, paman, dan sepupu. Maka pelajarilah tentang silaturrahim, dan datangi guru-guru kita, karena ini adalah kunci suksesnya seseorang. Jadi sesiapa yang ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah dengan menjalin silaturrahim. Rasulullah ﷺ bersabda: خَيْرُ النَّاسِ مَنْ طَالَ عُمْرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ Artinya: “Manusia yang baik adalah orang yang panjang umurnya dan baik amalnya.” Rasulullah SAW bersabda: Barang siapa ada atasnya hutang, bila ada atas engkau seumpama Gunung Shabir itu hutang, artinya punya banyak hutang, maka Allah melunasi itu. Bacalah: اللَّهُمَّ اكْفِنِي بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ، وَأَغْنِنِي بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ Artinya: “Ya Allah, cukupkanlah aku dengan yang halal dari-Mu sehingga aku terhindar dari yang haram, dan kayakanlah aku dengan karunia-Mu dari selain-Mu.” Doa ini dibaca kapan saja, dan carilah waktu-waktu mustajab untuk mengamalkannya. Ini adalah amalan untuk orang-orang yang punya banyak hutang. Ini adalah ajaran langsung dari Rasulullah SAW. Doa Masyhur (Doa Nabi Adam ‘Alaihissalam) اللَّهُمَّ إِنَّكَ تَعْلَمُ سِرِّي وَعَلَانِيَتِي فَاقْبَلْ مَعْذِرَتِي، وَتَعْلَمُ حَاجَتِي فَأَعْطِنِي سُؤْلِي، وَتَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي فَاغْفِرْ لِي ذَنْبِي. اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ إِيمَانًا يُبَاشِرُ قَلْبِي، وَيَقِينًا صَادِقًا حَتَّى أَعْلَمَ أَنَّهُ لَا يُصِيبُنِي إِلَّا مَا كَتَبْتَ لِي، وَرِضًا بِمَا قَسَمْتَ لِي. Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya Engkau mengetahui rahasiaku dan yang tampak dariku, maka terimalah alasanku. Engkau mengetahui kebutuhanku, maka berilah aku apa yang aku minta. Engkau mengetahui apa yang ada dalam diriku, maka ampunilah dosaku. Ya Allah, aku memohon kepada-Mu iman yang meresap ke dalam hatiku, dan keyakinan yang benar, hingga aku mengetahui bahwa tidak akan menimpaku sesuatu kecuali apa yang telah Engkau tetapkan untukku, dan aku ridha terhadap apa yang Engkau tetapkan bagiku.” Kalau iman terpisah dari diri kita, maka kita bisa melakukan hal-hal yang tidak baik. Tidak akan ada yang menimpa sesuatu atas diri kita kecuali hal itu sudah ditentukan oleh Allah. Keutamaan Doa Ini Allah berwahyu kepada Nabi Adam ‘alaihis salam: “Tidak berdoa seseorang dengan doa ini, melainkan Aku ampuni dosanya, Aku cukupi kerisauan dirinya, Aku jauhkan setan darinya, Aku perdagangkan dia di setiap pedagang, dan dia memiliki saham di setiap pedagang.” Dan dunia akan menghadap kepadanya sekalipun dia tidak menghendakinya. Bila engkau mengamalkan amalan seperti tadi walaupun sekali sehari, melaksanakan silaturrahim sudah, mengamalkan doa sudah, tetapi belum nampak hasilnya, dan ini bisa terjadi, maka jangan sampai ragu hati kita kepada Allah dan Rasul, jangan ragu terhadap amalan yang telah diamalkan. Karena keraguan yang demikian adalah bukti bahwa hati itu gelap. Allah terkadang memberi kita yang lebih baik daripada apa yang kita minta, namun kita tidak menyadarinya. Pemberian Allah yang luar biasa adalah ketika kita bisa mengamalkan suatu amalan dan istiqamah dalam ibadah. Ini juga termasuk pemberian Allah yang sangat besar dan sangat baik. Nasihat Imam Ahmad Ibnu 'Athaillah As-Sakandari beliau mengatakan: Janganlah hatimu ragu terhadap satu janji yang dijanjikan oleh Allah dan Rasul karena belum tampaknya janji itu. Karena keraguan dapat memadamkan cahaya hati. Beramallah engkau dengan satu amalan dan yakinlah bahwa Allah tidak pernah menyalahi janji-Nya. Pasti Allah akan memberikan apa yang telah Dia janjikan. Maka dalam beribadah kepada Allah dan berdoa kepada Allah, hendaklah kita melakukannya dengan yakin. Beribadah kepada Allah itu sendiri lebih baik daripada balasan yang disediakan. والله أعلم بالصواب.

Komentar / Koreksi

Belum ada komentar atau koreksi.

Silakan login untuk menambahkan komentar.