Manaqib Ulama
KH. Muhammad Ridwan Baseri (Guru Kapuh)
Manaqib K.H. Muhammad Ridwan Baseri (Guru Kapuh): Sang Penjaga Sanad dan Jembatan KeilmuanKelahiran dan Silsilah Mulia
K.H. Muhammad Ridwan Baseri, atau yang akrab disapa Guru Kapuh, dilahirkan di Desa Kapuh pada tanggal 7 Januari 1965. Beliau merupakan putra dari pasangan H. Hasan bin Baseri dan Hj. Jauhar.
Melalui garis sang ibunda, silsilah keilmuan dan darah beliau menyambung langsung kepada poros ulama besar tanah Banjar, Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari (Datu Kalampayan), dengan rincian jalur keturunan sebagai berikut:
Hj. Jauhar binti H. Athaillah bin H. Abdul Qadir bin H. Saโduddin (Datu Taniran) bin H.M. Asโad bin Puan Syarifah binti Syekh H. Muhammad Arsyad Al-Banjari.
Ayah beliau sendiri dikenal luas oleh masyarakat sebagai tokoh agama yang sering memberikan ceramah dan khutbah, hingga digelari Tuan Guru H. Hasan Baseri. Meskipun lahir dari keluarga yang berkecukupan secara finansial, Muhammad Ridwan muda tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, cerdas, dan sangat takzim kepada orang tuanya.
Masa Remaja, Aktivitas Organisasi, dan Seni Membaca Al-Qur'an
Di masa remajanya, beliau dikenal sebagai pemuda yang santun, gigih menuntut ilmu, dan aktif dalam kegiatan kemasyarakatan. Beliau pernah dipercaya mengemban amanah sebagai Wakil Ketua Karang Taruna Desa Kapuh dan Ketua Remaja Masjid Al-Hidayah. Pengalaman organisasi sejak dini inilah yang membentuk manajerial beliau dalam membangun yayasan dan pesantren di kemudian hari.
Dalam hal seni membaca Al-Qur'an, K.H. Muhammad Ridwan berguru kepada K.H. Hurairah (Guru Hurai) di Desa Pandai, Kandangan, yang merupakan rujukan utama ilmu tajwid di Hulu Sungai Selatan. Berkat bimbingan tersebut, walau tidak mengambil jalur hafizh (penghafal Al-Qur'an), lantunan ayat dan dalil yang dibacakan beliau dalam setiap majelis dikenal sangat fasih, lancar, dan berbobot.
Pendidikan Formal: Dari Kandangan hingga Gontor
Pendidikan dasar beliau selesaikan di SDN Kandangan (lulus 1979) dengan nilai yang sangat baik, kemudian melanjutkan ke MTsN Amawang (lulus 1982). Setamat MTsN, beliau dikirim oleh orang tuanya ke Pondok Pesantren Modern Darussalam Gontor, Jawa Timur.
Di Gontor, beliau memanfaatkan waktu secara optimal untuk mendalami ilmu agama melalui literatur kitab kuning, bahasa Arab, serta bahasa Inggris. Beliau berhasil menyelesaikan studi takhasus di Gontor selama 4 tahun dan lulus pada tahun 1986.
Mengaji Baduduk dan Mulazamah di Sekumpul
Sepulang dari Gontor, beliau sempat bermukim selama tiga tahun di Sampit, Kalimantan Tengah. Namun, panggilan ilmu membawa beliau kembali ke Kandangan pada tahun 1989 untuk memperdalam ilmu agama secara tradisional (mengaji baduduk) kepada ulama lokal, seperti Guru H. Saberi Kandangan dan Guru Muhammad Aini Rantau.
Memasuki tahun 1992, beliau melanjutkan rihlah ilmiahnya ke Martapura untuk menimba ilmu kepada K.H. Muhammad Zaini Ghani (Guru Sekumpul) yang saat itu majelisnya masih berpusat di Kampung Keraton. Selama di Martapura, beliau juga mengabdikan diri sebagai pengajar di SMIH Martapura dan MAPK Martapura hingga tahun 1998. Di bawah bimbingan langsung Guru Sekumpul, beliau mendalami ilmu tarekat, menjalani suluk, dan menyerap amalan-amalan sufi secara intensif.
Jaringan Guru Tasawuf dan Kitab Rujukan
Dalam perjalanan ruhaninya, berikut adalah guru-guru utama yang membimbing suluk beliau beserta kitab yang dikaji:
Guru H. Saberi (Kandangan): Mendalami kitab Ad-Durrun Nafis (Syekh Muhammad Nafis Al-Banjari) dan Hidayatus Salikin (Syekh Abdus Shamad Al-Falimbani).
Guru H. Muhammad Aini (Rantau): Mendalami kitab Nasa'ihul 'Ibad (Syekh Nawawi Al-Bantani) dan Nasa'ihud Diniyyah (Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad).
K.H. Muhammad Zaini Ghani (Sekumpul): Mursyid utama beliau dalam bersuluk, tempat beliau mengambil sanad tarekat, serta ijazah Tarekat Sammaniyah.
Al-Habib Luthfi bin Yahya (Pekalongan): Tempat beliau berbaiat dan menerima ijazah sanad Tarekat Syadziliyah.
Kitab-kitab tasawuf tingkat tinggi yang berhasil beliau khatamkan dari Guru Sekumpul meliputi Bidayatul Hidayah, Maraqil 'Ubudiyah, Minhajul 'Abidin, Ihya' 'Ulumiddin, Risalatul Mu'awanah, dan Kitab Al-Hikam beserta syarahnya Aiqazhul Himam. Kitab-kitab inilah yang kini diwariskan dan beliau ajarkan kembali di Majelis Al-Hidayah.
Puncak Kemasyhuran Majelis Taklim Al-Hidayah
Setelah enam tahun bermulazamah di Martapura, Guru Kapuh kembali ke kampung halamannya untuk mengajar di Ponpes Darul Ulum Amawang dan membuka pengajian rutin di Masjid Al-Hidayah, Kapuh.
Pasca-wafatnya Guru Sekumpul pada tahun 2005, Majelis Al-Hidayah Kapuh mengalami puncak kemasyhuran. Ribuan jemaah yang merindukan suasana pengajian Sekumpul berbondong-bondong mendatangi majelis beliau. Jemaah menemukan obat rindu karena cara penyampaian, kitab rujukan, dan penekanan ilmu fardhu ain (Tauhid, Fikih, Tasawuf) yang dibawakan Guru Kapuh memiliki kemiripan yang sangat kuat dengan Guru Sekumpul.
Untuk menjaga kualitas majelis, beliau kemudian memusatkan pengajian dan membaginya ke dalam beberapa titik terjadwal:
๐ Hari Minggu (Pagi)
Waktu: Pukul 08.00 WITA โ Selesai
Lokasi: Majelis Taklim Al-Hidayah, Kapuh
๐ Hari Selasa (Sore)
Waktu: Ba'da Ashar โ Selesai
Lokasi: Masjid Agung Humasa Rantau (bergiliran dengan Masjid Baiturrahman, Pasar Rantau)
๐ Hari Kamis (Sore)
Waktu: Ba'da Ashar โ Selesai
Lokasi: Masjid As-Sa'adah Taniran (bergiliran dengan Pondok Pesantren Al-Baladul Amin, Telaga Langsat)
๐ Hari Kamis (Malam)
Waktu: Ba'da Magrib โ Selesai
Lokasi: Majelis Taklim Al-Hidayah, Kapuh
๐ Hari Jumat (Sore)
Waktu: Ba'da Ashar โ Selesai
Lokasi: Majelis Taklim Al-Hidayah, Kapuh
๐ Hari Sabtu (Sore)
Waktu: Ba'da Ashar โ Selesai
Lokasi: Masjid Agung Taqwa (bergiliran dengan Masjid Ar-Raudhah, Kandangan)
Arsitek Pendidikan: Memadukan Tradisi Salaf dan Modern
Sebagai seorang konseptor pendidikan, K.H. Muhammad Ridwan Baseri berhasil mendirikan dua model pondok pesantren dengan visi yang berbeda:
Pondok Pesantren Minhajul Abidin (Berdiri 1998): Terletak di perbatasan Desa Telaga Bidadari dan Kapuh. Pesantren ini secara murni mengadopsi kurikulum salaf Ponpes Darussalam Martapura dengan sistem kitab kuning (weton/bandungan). Beliau sengaja menerapkan kurikulum ini agar pesantren mampu mencetak muslim yang berilmu dan ahli ibadah (amilin), yang bersanad kuat hingga ke pengarang kitab asli. Pesantren ini memiliki tiga jenjang (Awwaliyah, Wustha, Ulya) dengan jumlah santri mencapai 400 orang.
Pondok Pesantren Modern Al-Baladul Amin (Berdiri 2009): Lahir dari gagasan bersama Bupati HSU saat itu, DR. H. Muhammad Syafi'i, M.Si. Pesantren berkonsep Boarding School ini mengombinasikan kurikulum agama dan umum (sains/olahraga). Bertempat di kawasan pegunungan Desa Mandala di atas tanah wakaf H. Najamuddin bin K.H. Hurairah, pesantren ini diproyeksikan untuk mencetak calon birokrat dan pejabat yang bertakwa serta berakhlakul karimah.
Kiprah beliau di dunia pendidikan disempurnakan pada tahun 2014 dengan mendirikan Yayasan Ibnu Athaillah, yang menaungi Madrasah Ibtidaiyah berasrama dengan penguatan hafalan Al-Qur'an dan Hadis, yang lokasinya berada tepat 200 meter di belakang area parkir Majelis Al-Hidayah Kapuh.
Kehidupan Keluarga
Dalam mengarungi bahtera rumah tangga, K.H. Muhammad Ridwan Baseri didampingi oleh istri tercinta, Hj. Nailah. Dari pernikahan ini, beliau dikaruniai lima orang putra dan putri, yaitu Ahmad Fauzan, Khafifah, Khalilah, Rahel Maryam, dan Muhammad Ihsan Zaini. Beliau juga bersepupu dengan Guru H. Ahmad Mawardi (alm.), seorang Qari berprestasi yang selalu setia memimpin pembacaan Maulid Habsyi sebelum pengajian Guru Kapuh dimulai.