Manaqib Ulama
Syekh Jamaluddin Surgi Mufti
Manaqib Syekh Jamaluddin Surgi Mufti: Sang Ulama Zahid dan Mufti Penting Tanah BanjarKelahiran dan Silsilah Mulia
Syekh Jamaluddin Surgi Mufti (atau yang akrab disapa Datu Jamaluddin Sungai Jingah) dilahirkan di Dalam Pagar, Martapura, pada masa pemerintahan Sultan Adam, diperkirakan sekitar tahun 1243 H (1828 M). Beliau merupakan ulama besar yang memiliki garis keturunan yang sangat mulia, baik dari pihak ayah maupun ibu.
Dari garis ibundanya, Hj. Zalekha, beliau merupakan buyut langsung dari poros ulama Nusantara, Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari (Datu Kalampayan).
Silsilah Jalur Ibu: Syekh Jamaluddin Surgi Mufti bin Hj. Zalekha binti Al-Alimul Allamah Mufti Pangeran Ahmad bin Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari.
Silsilah Jalur Ayah: Beliau adalah putra dari H. Abdul Hamid Qusyasi, cucu dari Umpil, dan piut dari Tuan Mu'min, yang menurut riwayat sejarah merupakan seorang menteri penting di era Kesultanan Banjar.
Dari sekian banyak saudara kandung dan tirinya, hanya dari garis keturunan Syekh Jamaluddin inilah zuriat keulamaan beliau terus bersambung dan lestari hingga hari ini.
Rihlah Ilmiah di Mekkah dan Dialog Kedalaman Ilmu
Syekh Jamaluddin Surgi Mufti merupakan salah satu zuriat Datu Kalampayan yang paling lama bermukim di Tanah Suci Mekkah untuk menuntut ilmu. Beliau menghabiskan waktu puluhan tahun belajar secara intensif kepada para ulama besar di halaqah-halaqah Masjidil Haram, salah satunya adalah Syekh 'Athaillah.
Terdapat sebuah fragmen kisah berharga di dalam kitab manaqib beliau. Ketika sedang menuntut ilmu di Mekkah, paman beliau yang bernama Qadhi H. Abdus Samad Marabahan datang ikut belajar. Setelah delapan tahun belajar (dan sembilan kali menunaikan ibadah haji), Qadhi H. Abdus Samad dianjurkan oleh para gurunya untuk segera pulang ke Indonesia demi menyebarkan ilmu.
Mendengar kabar itu, Syekh Jamaluddin sangat terkejut dan bertanya penuh keheranan:
"Kenapa pamanda hendak segera pulang? Padahal baru delapan tahun pamanda mengaji di Mekkah sudah mau pulang. Sedangkan ananda sudah puluhan tahun lebih, bahkan hampir dua puluh tahun mengaji di Mekkah, belum berani pulang karena merasa belum cukup ilmu yang didapat."
Sang paman menjawab dengan tenang bahwa kepulangannya adalah atas perintah langsung para guru. Masih diliputi rasa penasaran, Syekh Jamaluddin kemudian mengajak pamannya untuk mudzakarah (berdiskusi mendalam) melintasi berbagai bidang ilmu, mulai dari ilmu Syariat, Tarekat, hingga ilmu Hakikat.
Usai berdiskusi, sang paman berdiri untuk melaksanakan salat sunnah. Ketika sang paman mengangkat takbiratul ikram, sebuah keajaiban rohani terjadi: jasad Qadhi H. Abdus Samad tiba-tiba menghilang dari pandangan Syekh Jamaluddin. Beliau sama sekali tidak melihat pamannya yang sedang salat. Barulah sesaat sebelum mengucapkan salam, jasad sang paman tampak kembali secara utuh.
Melihat kedalaman maqam keilmuan pamannya, Syekh Jamaluddin terkejut sekaligus takjub. Beliau bertanya bagaimana pamannya bisa meraih tingkat keilmuan setinggi itu dalam waktu singkat. Sang paman menjawab:
"Guru-guru memberikan atau menuangkan ilmu dengan cara 'beluruk' (menumpahkan seluruhnya hingga habis tanpa sisa)."
Peristiwa spiritual tersebut membuat Syekh Jamaluddin mantap melepas kepulangan pamannya, seraya mengikrarkan sebuah janji kuat:
"Ulun (saya) tidak akan pulang ke tanah Banjar, kalau tidak mendapatkan ilmu yang sampiyan (anda) dapatkan."
Kepulangan dan Kiprah sebagai Mufti Kerajaan
Setelah berhasil meraih kedalaman ilmu ruhaniah dan mengantongi izin dari ulama-ulama besar Mekkah, beliau akhirnya pulang ke kampung halaman sebagai generasi penerus dakwah datuknya. Beliau menetap di kawasan Sungai Jingah, Banjarmasin.
Syekh Jamaluddin dikenal sebagai ulama yang Amilin (mengamalkan ilmunya) serta Zahid (menjauhi kemewahan dunia). Beliau mewarisi kepakaran nenek moyangnya, khususnya dalam penguasaan Ilmu Alat (Sastra/Tata Bahasa Arab), Ilmu Falak (Astronomi Islam), dan Ilmu Geografi. Hari-hari beliau dihabiskan untuk mengajar kerabat, sahabat, dan masyarakat yang datang dari tempat jauh demi mengharapkan bimbingan rohani. Sebagai tuan rumah yang sangat pemurah, beliau selalu menjamu makan setiap tamu yang datang.
Kemasyhuran dan keluhuran budi pekerti beliau menarik perhatian Pemerintah Kolonial Belanda yang kala itu menguasai wilayah administratif. Kagum melihat rumah beliau yang setiap hari dipadati umat, pemerintah Belanda menawarkan jabatan strategis keagamaan. Dengan mempertimbangkan kemaslahatan dan perlindungan terhadap kondisi umat Islam saat itu, beliau menerima tawaran tersebut.
Pada tahun 1314 H (1896 M), beliau resmi diangkat sebagai Mufti Banjarmasin. Dalam struktur hukum Islam kala itu, jabatan Mufti memiliki kedudukan tertinggi, yakni sebagai pihak yang menyusun, mengolah, dan mengawasi jalannya undang-undang syariah, sedangkan eksekutor pembawa kebijakan di lapangan dijalankan oleh seorang Qadhi.
Kisah-Kisah Karamah (Khawariqul 'Adat)
Sebagai kekasih Allah, Syekh Jamaluddin dianugerahi berbagai karamah yang di luar nalar manusia sebagai tanda bukti kesucian hatinya:
"Di Mana Ada Air, Di Situ Ada Ikan": Suatu ketika pada zaman Belanda, seorang tentara Belanda ingin menguji kewalian beliau. Orang Belanda itu membawa sebutir buah kelapa kering dan menantang, "Coba buka, apakah ada ikannya? Di dalam kelapa ini ada airnya, kan?" Ketika kelapa itu dibelah oleh Syekh Jamaluddin, secara ajaib di dalamnya terdapat seekor ikan papuyu yang hidup, membuat orang Belanda tersebut takjub luar biasa.
Tebakan Ular di Bawah Tikar: Di Asrama Tatas (pusat markas tentara Belanda dekat Masjid Raya kala itu), beliau pernah ditantang menebak benda di bawah tikar purun. Pihak Belanda menanyakan, "Apa di bawah tikar itu?" Beliau menjawab, "Ada ular di bawah situ." Padahal sebelumnya, orang Belanda sengaja menyembunyikan sebilah kayu. Saat tikar dibuka, kayu tersebut telah berubah menjadi seekor ular hidup.
Melihat Hilal di Dalam Jubah: Pada zaman dahulu, masyarakat Banjar sering mengalami kesulitan sarana untuk menentukan awal bulan 1 Ramadan atau 1 Syawal. Dalam situasi tersebut, Syekh Jamaluddin cukup membuka jubah kebesarannya dan memperlihatkannya kepada para jemaah seraya berkata, "Nah, bulan (hilal) sudah kelihatan di dalam jubahku ini." Jubah beliau menjadi perantara ruyat atas izin Allah SWT.
Wafatnya sang Ulama
Setelah mendedikasikan seluruh umurnya untuk menegakkan panji dakwah Islamiah, kesehatan fisik beliau mulai menurun. Tepat pada hari Sabtu, 8 Muharram 1348 H, jam tiga sore menjelang waktu Asar, Tuan Surgi Mufti kembali ke hadirat Sang Khalik dalam keadaan muraqabah dan musyahadah yang dalam. Akhir kalam yang keluar dari lisan suci beliau adalah kalimat mulia: "Allah".
Kabar duka ini menggemparkan seluruh pelosok daerah. Lebih dari 500 jemaah menyalatkan jenazah beliau—jumlah yang sangat besar pada masa itu. Jasad beliau dimakamkan keesokan harinya, Ahad, 9 Muharram 1348 H pukul 14.00 siang di depan halaman rumah beliau di Sungai Jingah, Banjarmasin. Kawasan makam tersebut hingga kini abadi dikenal masyarakat dengan nama Kubah Sungai Jingah.