Informasi

Masuk

Manaqib Ulama

Tuan Guru Haji Abdurrasyid

Tuan Guru Haji Abdurrasyid
Wafat (Masehi) : 04 Februari 1934
Wafat (Hijriah) : 19 Syawal 1353

Manaqib Tuan Guru Abdurrasyid: Perintis Pembaruan Pendidikan Islam di Tanah Banjar

Kelahiran dan Masa Muda

Tuan Guru Abdurrasyid lahir pada tahun 1884/1885 M di Desa Pekapuran, Amuntai. Meskipun merupakan anak tunggal, beliau tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, rajin, dan cerdas—jauh dari kesan manja.

Ketekunan beliau terlihat sejak dini; tanpa sepengetahuan ayahnya, beliau rajin belajar membaca Al-Qur'an dan berhasil mengkhatamkannya pada usia tujuh tahun. Hal ini menjadi kejutan sekaligus kebanggaan besar bagi sang ayah.

Di masa mudanya, beliau menimba ilmu kepada sejumlah ulama di berbagai pengajian langgar dan rumah-rumah guru di Amuntai. Guru-guru beliau di antaranya adalah:

  • Tuan Guru Umar Awang Padang (Kelua)

  • Tuan Guru Ahmad (Sungai Banar)

  • Tuan Guru Jaferi bin Umar (Teluk Betung, Alabio)

  • Tuan Guru Abdurrahman (Pasungkan, Nagara)

Beliau merupakan output dari sistem pengajian langgar Nagara yang sangat populer kala itu.

Rihlah Ilmiah ke Mesir (1912)

Pengaruh Tuan Guru Jaferi bin Umar sangat membekas dalam pemikiran beliau, termasuk dorongan untuk melanjutkan studi ke Mesir. Pada tahun 1912, di usia sekitar 28 tahun, Tuan Guru Abdurrasyid memutuskan berangkat ke Universitas Al-Azhar, Kairo.

Keputusan ini tergolong berani dan tidak lazim pada masanya. Saat mayoritas pelajar Banjar memilih Haramayn (Mekkah dan Madinah) sebagai tempat belajar, beliau justru memilih Mesir yang sedang marak dengan ide-ide pembaruan dan gerakan modernisme. Demi cita-cita luhur tersebut, beliau rela meninggalkan istri dan anak di tanah air.

Perjuangan di Mesir tidaklah mudah. Beliau berangkat bersama sahabatnya, H. Mansyur dari Johor. Karena saat itu belum ada komunitas pelajar asal Banjar di Mesir, mereka harus berjuang tanpa relasi sedaerah—berbeda dengan kondisi pelajar di Mekkah yang sudah terkoneksi dengan baik. Beliau menempuh studi selama 10 tahun dan berhasil memperoleh ijazah al-Syahadah al-‘Alamiyah li al-Ghuraba pada akhir tahun 1922 M.

Kepulangan dan Kiprah Pendidikan

Setelah menunaikan ibadah haji, beliau kembali ke Amuntai dan mulai berdakwah. Perjalanan pengabdian beliau dimulai sebagai berikut:

  1. 13 Oktober 1922: Membuka halaqah atau pengajian di rumah mertuanya di Pekapuran.

  2. Tahun 1924: Membangun langgar barangkap dengan meniru model pendidikan langgar Nagara.

  3. Pengembangan Modern: Sukses dengan model tradisional, beliau mulai merintis sekolah Islam modern yang dilengkapi meja, kursi, dan papan tulis.

  4. Arabische School: Karena minat masyarakat yang besar, beliau membangun gedung baru berbentuk huruf U dengan enam lokal kelas. Lembaga inilah yang kemudian dikenal sebagai Arabische School (cikal bakal Pesantren Rakha), dengan jenjang pendidikan dari Ibtidaiyah, Tsanawiyah, hingga Aliyah.

Dalam mengelola sekolah ini, beliau dibantu oleh deretan ulama terkemuka, di antaranya:

H. Nasir, H. Basri, H. Usman, H. Muslim, H. Saberan Malisi, H. Abdul Qadir Malisi, H. Tukacil, H. Ahmad Adenan (H. Awang), H.M. Subeli Kaderi, H. M. Arsyad Tangga Ulin, H. Ahmad Mansyur, H. Asya’ari Sulaiman, H. Amir, dan Tuan Guru H. Muh. Rawi.

Tuan Guru Abdurrasyid sendiri bertindak sebagai Muallim Wahid (Guru Utama).

Karya Tulis Kitab

  • Parukunan Besar Melayu (masalah fiqih, ketauhidan dan ihsan/akhlak)

  • Sirajul Wahhaj (kisah Isra' Mi'raj yang ditulis dalam bahasa Arab)

Masa Akhir dan Warisan Keilmuan

Pada 22 Agustus 1931, kepemimpinan sekolah diserahkan kepada Tuan Guru Juhri Sulaiman. Beliau kemudian berpindah ke Kandangan untuk memimpin al-Madrasah al-Wathaniah, lalu ke Barabai untuk menghidupkan kembali Madrasah Diniyah Islamiyyah.

Setelah tiga tahun berkelana di luar daerah, beliau kembali ke Amuntai dalam kondisi kesehatan yang menurun. Tuan Guru Abdurrasyid wafat pada 4 Februari 1934 dalam usia sekitar 50 tahun.

Jejaring dan Pengaruh:

  • Jaringan Horizontal: Beliau berhasil merangkul para ulama sezamannya untuk bersama-sama membangun institusi pendidikan.

  • Jaringan Vertikal (Murid-Murid): Beliau mencetak ulama berpengaruh seperti Tuan Guru Abdul Wahab Sya’rani, Tuan Guru Ahmad Hasan, Tuan Guru Muhammad As’ad, hingga Tuan Guru Abdul Qadir Noor.

Tuan Guru Abdurrasyid bukan sekadar alumni pertama Al-Azhar dari kalangan urang Banjar, melainkan seorang motivator ulung yang menginspirasi murid-muridnya untuk menimba ilmu hingga ke Mesir dan menjadi pelopor pembaruan di daerah masing-masing.

Sumber:

  • Jaringan Intelektual Ulama Banjar XIX-XX

Lokasi Makam

Komentar (0)

Belum ada komentar.