Studi Al-Quran
Berbayar
Al-Qur'an dalam Ketegangan Ritualisme & Akademisme
Di tengah semaraknya interaksi umat Islam dengan Al-Qur'an pada era modern, muncul sebuah paradoks yang jarang disadari secara kritis. Al-Qur'an semakin sering dibaca, dilantunkan, dan dihafalkan dalam berbagai ruang ritual dan publik, namun kehadiran tersebut tidak selalu berbanding lurus dengan kedalaman penghayatan makna serta daya transformasinya dalam kehidupan personal dan sosial.
Buku Al-Qur'an Antara Sakralisasi Ritual dan Sekularisasi Akademik hadir untuk membaca kegelisahan ini secara jujur dan argumentatif. Karya ini mengajukan kritik konstruktif terhadap dua kecenderungan ekstrem dalam relasi umat dengan Al-Qur'an: sakralisasi ritual yang mereduksi Al-Qur'an menjadi bacaan seremonial yang miskin refleksi makna, serta sekularisasi akademik yang memosisikannya semata sebagai objek kajian ilmiah yang terlepas dari statusnya sebagai wahyu dan sumber nilai normatif.
Melalui analisis berbagai fenomena sosial-keagamaan kontemporer—mulai dari budaya khataman massal, gerakan one day one juz, pendidikan tahfiz, hingga digitalisasi Al-Qur'an—buku ini menunjukkan bagaimana dominasi aspek verbal, kuantitatif, dan teknis telah menggeser fungsi Al-Qur'an dari hudā (petunjuk hidup) menjadi simbol religius atau korpus akademik terbuka. Dalam konteks perguruan tinggi, Al-Qur'an kerap direduksi menjadi teks sejarah yang sahih secara metodologis, tetapi hampa secara eksistensial.
Buku ini mengkritik pemisahan antara pengetahuan dan makna, antara analisis teks dan tanggung jawab etis. Dengan pendekatan reflektif-konstruktif, penulis mengajak pembaca membangun kembali relasi yang utuh dengan Al-Qur'an—relasi yang memadukan kesakralan wahyu dengan kedalaman intelektual—agar Al-Qur'an kembali hidup sebagai sumber etika, inspirasi intelektual, dan daya transformasi peradaban.
Buku Al-Qur'an Antara Sakralisasi Ritual dan Sekularisasi Akademik hadir untuk membaca kegelisahan ini secara jujur dan argumentatif. Karya ini mengajukan kritik konstruktif terhadap dua kecenderungan ekstrem dalam relasi umat dengan Al-Qur'an: sakralisasi ritual yang mereduksi Al-Qur'an menjadi bacaan seremonial yang miskin refleksi makna, serta sekularisasi akademik yang memosisikannya semata sebagai objek kajian ilmiah yang terlepas dari statusnya sebagai wahyu dan sumber nilai normatif.
Melalui analisis berbagai fenomena sosial-keagamaan kontemporer—mulai dari budaya khataman massal, gerakan one day one juz, pendidikan tahfiz, hingga digitalisasi Al-Qur'an—buku ini menunjukkan bagaimana dominasi aspek verbal, kuantitatif, dan teknis telah menggeser fungsi Al-Qur'an dari hudā (petunjuk hidup) menjadi simbol religius atau korpus akademik terbuka. Dalam konteks perguruan tinggi, Al-Qur'an kerap direduksi menjadi teks sejarah yang sahih secara metodologis, tetapi hampa secara eksistensial.
Buku ini mengkritik pemisahan antara pengetahuan dan makna, antara analisis teks dan tanggung jawab etis. Dengan pendekatan reflektif-konstruktif, penulis mengajak pembaca membangun kembali relasi yang utuh dengan Al-Qur'an—relasi yang memadukan kesakralan wahyu dengan kedalaman intelektual—agar Al-Qur'an kembali hidup sebagai sumber etika, inspirasi intelektual, dan daya transformasi peradaban.