Fikih
Berbayar
Toleransi Berbid'ah
Di tengah derasnya perdebatan dan saling tuding seputar bid'ah, hadir buku yang menyejukkan hati dan mencerahkan akal. "Toleransi Berbid'ah: Mengukhuwahkan Antar Bid'ah & Tidak Bid'ah" bukan hanya buku—ia adalah jembatan ukhuwah di tengah riuhnya perbedaan.
Ditulis dengan pendekatan ilmiah, penuh etika, dan disertai semangat persaudaraan, buku ini menyoroti dua madrasah besar dalam memahami bid'ah: Madrasah Nashshiyyah dan Madrasah Madzhabiyyah. Bukan untuk mempertajam konflik, tapi untuk membuka ruang dialog yang bijak dan saling menghargai. Buku ini menawarkan:
Analisis tekstual dan metodologis hadits-hadits bid'ah.
Perbandingan mendalam antar pendekatan ulama klasik.
Ajakan untuk merawat ukhuwah meski berbeda pandangan.
Unik, berani, dan berimbang—buku ini layak menjadi pegangan para santri, mahasiswa, da'i, dan siapa pun yang rindu Islam yang rahmatan lil 'alamin.
"Bid'ah adalah rahim lahirnya inovasi di dunia cipta; Namun dalam ibadah, ia adalah jurang kesesatan samar-samar dihias kesalehan."
Pengantar KH. Muhammad Said Masrawan, Lc, MA Ketua MUI Kab Hulu Sungai Utara:
Sebuah karya ilmiah yang tidak hanya menyajikan dialektika keilmuan, tetapi juga mengedepankan nilai ukhuwah dan etika berbeda pendapat dalam memahami agama.
Buku ini berawal dari tulisan ringan Ustadz Nashrullah Muhammad Atha yang ia presentasikan pada diskusikan bulanan kawan-kawan Ikatan Alumni Amuntai Mesir pada setiap bulannya. Sebagai satu ikhtiar kreatif positi agar tulisan ini juga bisa dinikmati, maka diterbitkanlah tulisan ini dengan judul yang sama.
Pada awal studi saya di Mesir, salah satu buku yang saya kenal dan sangat memberikan nutrisi intelektual dalam menyikapi dialetika perbedaan pendapat adalah karya monumental dari al-Imam Dr. Yusuf al-Qaradhawi, berjudul الصحوة الإسلامية بين الاختلاف المشروع والتفرق المذموم (Kebangkitan Islam antara Perbedaan yang Dibenarkan dan Perpecahan yang Dikecam). Buku tersebut menanamkan prinsip penting bahwa perbedaan dalam Islam bukanlah ancaman, tetapi rahmat yang harus dikelola dengan ilmu dan akhlak.
Semangat itu sangat terasa dalam karya yang ditulis oleh Ustadz Nashrullah Muhammad Atha ini. Penulis mencoba membedakan dengan tegas antara perbedaan yang bersumber dari ijtihad ulama—seperti dalam memahami makna dan klasifikasi bid'ah—dengan perpecahan yang muncul karena fanatisme, labelisasi, dan keengganan mendengar pandangan yang berbeda.
Buku ini berhasil menampilkan dua arus besar dalam memahami bid'ah, yaitu madrasah nashshiyyah dan madrasah madzhabiyyah, dengan pendekatan yang ilmiah, objektif, dan penuh etika. Penulis tidak memaksakan pembaca untuk berpihak, tetapi memberikan ruang untuk memahami secara proporsional dan menghargai keragaman pemikiran yang telah hidup dalam tubuh umat Islam selama berabad-abad.
Sebagaimana pesan dari al Imam Dr Yusuf al-Qaradhawi dalam bukunya, bahwa kebangkitan Islam yang sehat dan kuat hanya mungkin terwujud jika dibangun di atas landasan ukhuwah, toleransi, dan adab dalam berikhtilaf. Maka buku ini menjadi salah satu bentuk konkret dari visi besar itu: menghadirkan dialog, bukan konfrontasi; menyebarkan pemahaman, bukan penghakiman.
Saya merekomendasikan buku ini sebagai bahan bacaan penting bagi para da'i, guru, mahasiswa, dan siapa pun yang ingin memahami makna toleransi dalam perbedaan fikih, khususnya seputar isu bid'ah yang sering kali menimbulkan ketegangan di tengah umat.
Semoga buku ini menjadi bagian dari solusi, bukan pemicu masalah; menjadi sarana silaturahmi keilmuan, bukan alat perpecahan emosional.
Ditulis dengan pendekatan ilmiah, penuh etika, dan disertai semangat persaudaraan, buku ini menyoroti dua madrasah besar dalam memahami bid'ah: Madrasah Nashshiyyah dan Madrasah Madzhabiyyah. Bukan untuk mempertajam konflik, tapi untuk membuka ruang dialog yang bijak dan saling menghargai. Buku ini menawarkan:
Analisis tekstual dan metodologis hadits-hadits bid'ah.
Perbandingan mendalam antar pendekatan ulama klasik.
Ajakan untuk merawat ukhuwah meski berbeda pandangan.
Unik, berani, dan berimbang—buku ini layak menjadi pegangan para santri, mahasiswa, da'i, dan siapa pun yang rindu Islam yang rahmatan lil 'alamin.
"Bid'ah adalah rahim lahirnya inovasi di dunia cipta; Namun dalam ibadah, ia adalah jurang kesesatan samar-samar dihias kesalehan."
Pengantar KH. Muhammad Said Masrawan, Lc, MA Ketua MUI Kab Hulu Sungai Utara:
Sebuah karya ilmiah yang tidak hanya menyajikan dialektika keilmuan, tetapi juga mengedepankan nilai ukhuwah dan etika berbeda pendapat dalam memahami agama.
Buku ini berawal dari tulisan ringan Ustadz Nashrullah Muhammad Atha yang ia presentasikan pada diskusikan bulanan kawan-kawan Ikatan Alumni Amuntai Mesir pada setiap bulannya. Sebagai satu ikhtiar kreatif positi agar tulisan ini juga bisa dinikmati, maka diterbitkanlah tulisan ini dengan judul yang sama.
Pada awal studi saya di Mesir, salah satu buku yang saya kenal dan sangat memberikan nutrisi intelektual dalam menyikapi dialetika perbedaan pendapat adalah karya monumental dari al-Imam Dr. Yusuf al-Qaradhawi, berjudul الصحوة الإسلامية بين الاختلاف المشروع والتفرق المذموم (Kebangkitan Islam antara Perbedaan yang Dibenarkan dan Perpecahan yang Dikecam). Buku tersebut menanamkan prinsip penting bahwa perbedaan dalam Islam bukanlah ancaman, tetapi rahmat yang harus dikelola dengan ilmu dan akhlak.
Semangat itu sangat terasa dalam karya yang ditulis oleh Ustadz Nashrullah Muhammad Atha ini. Penulis mencoba membedakan dengan tegas antara perbedaan yang bersumber dari ijtihad ulama—seperti dalam memahami makna dan klasifikasi bid'ah—dengan perpecahan yang muncul karena fanatisme, labelisasi, dan keengganan mendengar pandangan yang berbeda.
Buku ini berhasil menampilkan dua arus besar dalam memahami bid'ah, yaitu madrasah nashshiyyah dan madrasah madzhabiyyah, dengan pendekatan yang ilmiah, objektif, dan penuh etika. Penulis tidak memaksakan pembaca untuk berpihak, tetapi memberikan ruang untuk memahami secara proporsional dan menghargai keragaman pemikiran yang telah hidup dalam tubuh umat Islam selama berabad-abad.
Sebagaimana pesan dari al Imam Dr Yusuf al-Qaradhawi dalam bukunya, bahwa kebangkitan Islam yang sehat dan kuat hanya mungkin terwujud jika dibangun di atas landasan ukhuwah, toleransi, dan adab dalam berikhtilaf. Maka buku ini menjadi salah satu bentuk konkret dari visi besar itu: menghadirkan dialog, bukan konfrontasi; menyebarkan pemahaman, bukan penghakiman.
Saya merekomendasikan buku ini sebagai bahan bacaan penting bagi para da'i, guru, mahasiswa, dan siapa pun yang ingin memahami makna toleransi dalam perbedaan fikih, khususnya seputar isu bid'ah yang sering kali menimbulkan ketegangan di tengah umat.
Semoga buku ini menjadi bagian dari solusi, bukan pemicu masalah; menjadi sarana silaturahmi keilmuan, bukan alat perpecahan emosional.